Tampilkan postingan dengan label Permainan Anak Balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permainan Anak Balita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juni 2012

ANAK KREATIF ATAU CERDAS


PILIH KREATIF ATAU CERDAS?

Kreativitas memang bukan anugerah yang diberikan Tuhan secara instan, melainkan butuh proses untuk mendapatkannya. Proses ini tentu butuh campur tangan orang tua sebagai konseptor, yang berperan penting dalam menentukan hitam putihnya masa depan anak. Anak merupakan tanggung jawab orang tua secara utuh, dan apa yang dibutuhkan anak, orang tualah yang seharusnya lebih tahu. Sebab tak ada yang mengenal anak sebaik orang tua mereka sendiri. Jadi kemanapun arah focus pendidikan anak merupakan tanggung jawab orangtua.

Banyak orangtua yang menganggap bahwa apa yang diajarkan kepada anak telah benar, namun hal itu ternyata belum cukup. Orang tua hanya akan membuat anak cerdas bukan kreatif. Padahal, dengan kreatif maka anak akan menjadi cerdas. Terdapat beberapa alasan utama yang melatarbelakangi mengapa sejak dini kita sebagai orangtua perlu berusaha untuk mengasak kreativitas anak kita.

Read more...

ANAK DAN GAME


ANAK KETAGIHAN GAME, HENTIKAN DARI SEKARANG!
Normalnya anak usia 3-4 tahun sudah mulai tertarik dengan aktivitas bersosialisai, bermain bersama teman sebayanya. Namun, di kota-kota besar salah satunya Jakarta, dengan tingkat social ekonomi yang semakin tinggi dan kedua orang tua yang bekerja, banyak orang tua yang tak ingin anaknya bermain keluar rumah, dengan alasan keamanan. Tanpa menyadari, banyak orangtua justru seperti mengarahkan anaknya untuk diam di rumah saja dengan pengasuhnya. Jika pun tidak dengan pengasuhnya, dirumah disediakan sedemikian rupa alat bermain, salah satunya video game/ PS. Karenanya video game menjadi mainan yang paling member daya tarik bagi si anak. Ketertarikan karena factor pergaulan juga. Seperti teman-teman sekolahnya bercerita bahwa mereka telah memainkannya, atau  ia pernah diajak bermain. Karenanya tak heran saat mereka punya sendiri dan menemukan keasyikan memainkannya dibanding dengan mainan lain, maka tv game ini jadi pilihan yang paling ditunggu anak setiap hari.
Read more...

Kamis, 06 Oktober 2011

ANAK BERMAIN SESUAI GENDER ?



Anak laki-laki dan perempuan berbeda dari aspek biologis, perkembangan motorik, kognitif, perkembangan sosial dan kepribadian. Ketika bermain bersama mereka, orang tua perlu memerhatikan perbedaan tersebut agar manfaat bermain, kesenangan bermain, dan kualitas interaksi orangtua dengan anak, menjadi optimal.

Di bawah ini panduan beraktivitas sesuai jenis kelamin anak dan orangtua.

  1. Ayah bermain dengan Anak Laki-laki. Saat bermain, anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar. Gerakan dan level aktivitas mereka cenderung lebih tinggi dibanding anak perempuan. Hal itu sama dengan kecenderungan sifat ayah yang lincah, cepat, kuat dan beraktivitas aktif. Aktivitas yang cocok seperti, lempar dan tangkap, cuci mobil dan berkemah.
  2. Ayah bermain dengan anak perempuan. Saat bermain dengan puteri kecilnya, ayah perlu membedakan perlakuannya sesuai dengan karakter fisik dan kepribadian umum anak perempuan. Aktivitas yang cocok seperti, diskusi tokoh idola, berenang, dan jalan-jalan ke taman bunga.
  3. Ibu bermain dengan si gadis kecil. Anak perempuan sangat menyukai kelembutan dan naluri untuk diasuh, dimana terdapat banyak skin to skin contact lewat belaian, pelukan dan ciuman. Anak perempuan juga suka akan keindahan, kerapian dan mengorganisir sesuatu, yang dapat dipelajarinya saat ia beraktivitas bersama ibu. Aktivitas yang cocok seperti, berdandan bersama, role play, dan meronce.
  4. Ibu bermain dengan si jagoan. Ibu bisa menjadi teman bermain seru bagi anak laki-lakinya, asalkan ibu cukup bugar, tidak jaim (jaga imej) dan bersedia kotor! Aktivitas yang cocok seperti, main lego, boneka tangan, dan melukis.
Aktivitas yang diberikan kepada anak laki-laki dan perempuan bisa sama, yang membedakan hanya cara membawakannya.

Menerapkan Pola Asuh yang Sensitif Gender

Menerapkan pola asuh yang sensitive gender, penting bagi anak laki-laki dan anak perempuan agar mereka berkembang secara optimal.

Terhadap perilaku anak laki-laki yang biasa lebih aktif dan agresif, ternyata orangtua tidak disarankan untuk melabel "nakal" atau "pemberontak", karena, memang demikianlah salah satu perbedaan antara perempuan dengan lelaki.

Perempuan memiliki daya ingat jangka panjang yang lebih hebat, sehingga mampu menyelesaikan soal dengan cara yang sudah diajarkan. Sementara lelaki punya kreativitas dan keberanian mengambil risiko yang lebih besar, sehingga lebih memilih menggunakan cara baru untuk menyelesaikan soal yang sama.

Pengetahuan tentang perbedaan gender antara anak laki-laki dan perempuan, dapat menjadi modal berharga bagi orangtua, dalam menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak-anak dengan jenis kelamin berbeda.

Nature dan Nurture. Dulu, banyak kalangan berpendapat bahwa perkembangan peran jenis kelamin disebabkan oleh faktor bawaan saja (nature),seperti hormon, kromosom dan sebagainya, atau faktor lingkungan saja (nurture), misalnya yang didapat dari pola asuh, perlakuan lingkungan dan sebagainya. Padahal, melihat salah satu faktor tanpa mengaitkannya dengan faktor yang lain, sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Karena pada dasarnya, kedua faktor tersebut saling memengaruhi. Pentingnya pola asuh yang sensitif terhadap gender atau peran jenis kelamin, untuk lebih memahami apa kebutuhan anak sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing. Perlakuan terhadap anak laki-laki tentu berbeda dengan perlakuan terhadap anak perempuan. Semua disesuaikan dengan keunikan masing-masing jenis kelamin, yang tentu berbeda secara biologis, perkembangan motorik dan kognitif, serta perilaku sosial dan kepribadiannya.

Sensitif sesuai takaran. Menerapkan pola asuh yang sensitif gender, sangat penting untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebutuhan anak. Orangtua bisa saja kurang sensitif dalam menerapkan pola asuh sesuai gender, sehingga semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, diperlakukan sama. Misalnya, semua anak harus belajar tari balet atau semua anak harus berani membetulkan genteng, tanpa memerhatikan minat dan kenyamanan anak dalam melakukannya. Pola asuh yang kurang sensitif gender seperti ini, akan mengakibatkan anak merasa tidak nyaman, merasa kebingungan dalam berperan sesuai dengan jenis kelamin. Sehingga pada tingkat yang lebih serius, dapat berakibat pada kebingungan orientasi seksual hingga depresi.

Sebaliknya, perlakuan terlalu sensitif dalam menjalankan peran jenis kelamin, juga kurang baik pengaruhnya bagi anak. Misalnya, anak perempuan harus selalu memakai rok, tidak boleh bekerja kasar apalagi mencuci mobil, harus selalu menurut dan sebagainya. Sedangkan anak laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh memasak dan harus memakai pakaian berwarna gelap, dan sebagainya. Hal itu akan membuat anak merasa diperlakukan kurang adil, misalnya, membandingkan diri dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, memiliki konsep diri yang terbatas, kurang fleksibel terhadap berbagai peran yang ada - misalnya bapak yang tidak mau menggendong bayi karena merasa tidak pantas laki-laki menggendong bayi - serta kurang sensitif atau kurang dapat berempati terhadap lawan jenis.

Yang paling tepat adalah pola asuh yang tidak keterlaluan sensitifnya, namun juga bukan tidak peka. Jadi, cukup sensitif dan fleksibel berada di tengah-tengah antara dua ekstrim tersebut. Bukankah tidak ada salahnya seorang anak laki-laki memiliki beberapa sifat feminin, seperti penuh kasih sayang atau lembut? Dan, anak perempuan juga boleh memiliki beberapa sifat maskulin, seperti mandiri dan berani mengambil risiko, jika semua itu merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan sang anak dalam menggapai masa depannya.

Pola asuh seperti itu akan membuat anak menjadi lebih berpikiran terbuka, fleksibel, mudah beradaptasi dengan keadaan, terampil di berbagai bidang, lebih ekspresif, dan akhirnya akan membuatnya lebih bahagia dengan hidupnya.

Tips Pola Asuh Sensitif Gender

Menerapkan pola asuh yang sensitif gender, sangat penting untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebutuhan anak. Sesuikan juga dengan tahapan usianya.

*Anak usia 0 – 1,5 tahun
Pola asuh umum:
  • Orangtua sebaiknya banyak berdekatan dengan anak
  • Orangtua sebaiknya banyak membelai dan menggendong anak; keduanya tidak membuat anak jadi feminin atau manja.
  • Orangtua mulai mengenalkan rutinitas pada si kecil, sebagai fondasi disiplin.
  • Orangtua menstimulasi berbagai kecerdasan dengan berbagai cara.
  • Pola asuh sensitif gender
Anak perempuan:
  • Lebih membutuhkan kelembutan dibanding anak laki-laki, karena itu banyak sentuhan dan kelembutan.
  • Membutuhkan banyak tatapan mata untuk memenuhi kebutuhan afeksi.
Anak laki-laki:
  • Di usia ini lebih sulit diatur dan lebih rewel, karenanya, membutuhkan kesabaran untuk merawatnya.
  • Jika anak aktif, orangtua harus ikut lincah mengikuti gerakan mereka.
*Anak usia 1,5 – 3 tahun
Pola asuh umum:
  • Membutuhkan rumah yang aman untuk bereksplorasi, mengikuti area pergerakan mereka yang lebih luas.
  • Orangtua harus lebih kreatif memberi kegiatan yang variatif demi mengoptimalkan potensi si kecil.
  • Sudah harus mengenal disiplin yang diterapkan secara lebih konsisten.
  • 1,5 tahun adalah batas akhir anak mengeluarkan kata pertama, sehingga jika lebih dari 18 bulan ia belum bisa bicara, konsultasikan ke ahli tumbuh kembang.
Pola asuh sensitif gender:

Anak perempuan
  • Stimulasi dengan aktivitas kreatif yang bisa dikerjakan dengan tenang.
  • Anak perempuan juga senang mendengarkan cerita dan dongeng.
Anak laki-laki
  • Membutuhkan aktivitas aktif yang seru dan ruang gerak lebih luas untuk bereksplorasi fisik.
  • Membutuhkan disiplin positif yang lebih tegas, namun menyenangkan.
*Anak usia 3-6 tahun
Pola asuh umum:
  • Belum mengikuti pola pengajaran terstruktur di sekolah formal, namun sebaiknya diarahkan pada aktivitas yang teratur dan terarah untuk menyiapkan mereka.
  • Mulai mengenalkan cara menjaga kebersihan dan keamanan alat kelamin, misalnya, membersihkan kelamin anak perempuan dari depan ke belakang, anak laki-laki harus membersihkan kelamin setiap selesai berkemih. Ajarkan pula anak tidak sembarangan disentuh di tempat-tempat tertentu, untuk menghindarkan mereka dari pelecehan seksual.
  • Beri kesempatan anak bermain dengan teman.
  • Beri kesempatan belajar lebih mandiri dan bertanggung jawab.
Pola asuh sensitif gender:

Anak perempuan:
  • Anak perempuan lebih suka bermain pura-pura atau role playing.
  • Membutuhkan kegiatan mengobrol bersama untuk memenuhi kebutuhan afeksi.
Anak laki-laki:
  • Membutuhkan banyak aktivitas seru bersama teman sebaya.
  • Sebaiknya ayah memperkenalkan beberapa aktivitas laki-laki sederhana untuk mulai mengajarkan peran.

Berdasarkan hasil penelitian para ahli atau yang didapat secara statistik, terdapat beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Baik dari segi biologis, motorik, kognitif, emosi, perilaku hingga kepribadian.

Perbedaan biologis
  • berbeda (anak laki-laki XY, anak perempuan XX)
  • hormon berbeda (anak laki-laki memiliki hormon testosteron anak perempuan hormon esterogen)
  • alat kelamin berbeda, antara penis dan vagina
  • Ada perbedaan tinggi dan berat badan: anak laki-laki akan lebih tinggi dan berat dibanding perempuan, terutama setelah melewati masa pubertas.
  • Ada perbedaan usia pubertas: anak perempuan lebih cepat puber dibanding anak laki-laki.
Perbedaan motorik
  • Anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar karena pengaruh hormon testosteron, ditambah minat dan dorongan budaya.
  • Sebaliknya, anak perempuan lebih ke arah pengembangan motorik halus.
  • Jenis gerakan dan level aktivitas lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan, sehingga anak laki-laki terkesan lebih kasar, sedangkan anak perempuan lebih halus.
Perbedaan kognitif
  • Jenis kecerdasan berbeda, meskipun secara umum kecerdasan anak laki-laki dan anak perempuan kurang lebih sama.
  • Daya ingat jangka panjang anak perempuan lebih baik, sedangkan anak laki-laki lebih baik dalam ingatan jangka pendek.
  • Anak perempuan lebih cepat belajar berbicara, kata-katanya lebih bervariasi, struktur kalimatnya lebih teratur. Hal ini disebabkan karena anak perempuan memiliki kebutuhan afeksi lebih tinggi, yang dapat terpenuhi lewat komunikasi.
  • Anak laki-laki lebih pintar secara spasial. Mereka lebih cepat ingat rute menuju rumah atau tempat favorit mereka. Mereka juga lebih cepat menangkap perbedaan bentuk dan perbedaan ukuran dari dua benda yang dibandingkan.
  • Kecerdasan dan nalar matematika anak laki-laki dan perempuan relatif sama. Namun anak perempuan cenderung mengerjakan soal seperti yang diajarkan guru, sedangkan anak laki-laki lebih inovatif dan kreatif dalam memecahkan masalah matematika. Ini juga disebabkan karena anak laki-laki jarang hafal apa yang diajarkan gurunya, sehingga mencari cara pemecahannya sendiri.
Perbedaan emosi
  • Anak perempuan lebih ekspresif menunjukan emosi sedih/kecewa, misalnya dengan menangis.
  • Anak laki-laki lebih ekspresif dalam mengungkapkan kemarahan, misalnya dengan membanting barang atau menendang mainannya.
  • Cara mengatasi stress berbeda. Perempuan dengan menjalin relasi, laki-laki dengan segera mencari solusi.
  • Anak perempuan lebih sensitif terhadap perasaan orang, dibanding anak laki-laki.
  • Perbedaan perilaku
  • Anak perempuan lebih mudah berempati, sehingga lebih mudah mengulurkan bantuan dibanding anak laki-laki.
  • Anak laki-laki lebih banyak melakukan permainan fisik, dibanding anak perempuan.
  • Dalam pengambilkan risiko, anak laki-laki lebih agresif. Anak laki-laki diuntungkan dengan kemampuannya melakukan permainan fisik ditambah pengaruh hormon testosteron. Tuntutan lingkungan juga mengakibatkan anak laki-laki lebih berani mengambil risiko.
  • Anak laki-laki dan anak perempuan kenakalan yang sama, namun anak perempuan lebih mengekspresikannya ke ekspresi verbal, misalnya menjelekkan orang lain, sedangkan anak laki-laki lebih ke perilaku.
Perbedaan kepribadian
  • Anak perempuan lebih banyak lahir dengan temperamen easy going atau mudah, sementara anak laki-laki lebih banyak masuk ke kategori difficult atau sulit. Lihat saja waktu menyusui, anak perempuan lebih mudah dipuaskan, sedangkan anak laki-laki lebih rewel.
  • Beberapa gangguan psikologis lebih banyak diderita oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan, seperti tuna grahita, atau spektrum autisme.
  • Kesulitan belajar (learning disabilities) lebih banyak dialami laki-laki, misalnya hambatan membaca (disleksia), hambatan menghitung (diskalkulia ) dan hambatan menulis (disgrafia).
Dalam buku “Boys and girls learn differently” karya Michael Gurlan, M.D. dan hasil riset Gwenn O’Keeffe, M.D. dari North Shore Children’s Hospital, Massachusetts, serta Martin T. Stein, M.D. dari University of California, San Diego, AS, diungkapkan beberapa hal yang hanya dialami bayi laki-laki yaitu:
  • Lebih besar kemungkinan buta warna karena gen pembawa kelainan ini terkait pada kromoson X
  • Lebih mudah terserang infeksi saluran telinga tengah pada rentang umur 3 bulan sampai 3 tahun
  • Lebih mudah mengalami hernia sebab pada proses pembentukan testis sering terbentuk rongga pada dinding perut
  • Lebih lemah sistem pencernaannya, terutama pada umur 6 minggu
  • Lebih mudah kena asma
  • Lebih mudah meninggal akibat SIDS, terutama umur 1 minggu sampai 1 tahun. Penyebabnya belum diketahui
  • Lebih peka terhadap rasa asin.
www.ayahbunda.co.id
Read more...

AYAH DAN ANAK LAKI-LAKINYA




AYAH BERMAIN DENGAN ANAK LAKI-LAKI

Kesamaan jenis kelamin antara ayah dengan anak laki-laki, sering diartikan bahwa mereka memiliki kecocokan dalam berinteraksi atau beraktivitas.

Saat bermain, anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar. Gerakan dan level aktivitas mereka cenderung lebih tinggi dibanding anak perempuan. Hal itu sama dengan kecenderungan sifat ayah yang lincah, cepat, kuat dan beraktivitas aktif.

Aktivitas yang cocok bagi ayah dan anak laki-lakinya, adalah:

1. Lempar dan tangkap. Aktivitas ini sebenarnya bisa juga dilakukan oleh ibu dengan anak laki-lakinya, tetapi, bila dilakukan anak laki-laki bersama ayahnya, lebih seru! Sebab, para ayah punya cara tersendiri dalam bermain lempar - tangkap:

  • Di luar ruangan. Para ayah tidak mau main lempar tangkap di rumah. Dengan bersemangat, mereka akan mengajak anak keluar rumah, mencari lokasi yang lapang - misalnya playground - agar bisa bermain leluasa dan aman. Sambil bermain, anak dan ayah juga mengeksplor lingkungan.
  • Melempar dengan berbagai gaya. Tidak sekedar melempar dan menangkap bola menggunakan satu tangan, para ayah akan memilih berbagai pose, misalnya, gaya American Football atau Aussie Rule.
  • Yang kuat! Ayah tidak ragu untuk melempar bola dengan kekuatan, kecepatan dan ketinggian maksimal. Ia pun mengajarkan anaknya untuk melakukan hal yang sama.
  • Kena bola? Biasa. Ups! bolanya malah kena kepala anak! Para ayah biasanya tetap tenang dan tidak segera bereaksi. Momen ini mereka gunakan untuk mengajarkan anak laki-lakinya agar kuat. Bila justeru ayah yang terkena lemparan bola, wah, dia malah bangga!
  • Anak jadi bola. Ayah sering menutup permainan lempar-tangkap dengan menjadikan anak sebagai...bolanya! Si Buyung pun bisa merasakan ‘terbang’ di udara. Wiiiiing...!
2. Cuci mobil. Hore, main air! Semua anak laki-laki senang bermain air, namun bila dilakukan sambil mencuci mobil, mereka akan mendapat manfaat bermain sekaligus belajar. Enaknya mencuci mobil bersama ayah adalah:
  • Ayah tidak banyak melarang saat anak laki-lakinya bereksplorasi, seperti menyabuni dan menyemprot mobil dengan air, meski pun belum sempurna.
  • Ayah dengan bahagia akan mengajarkan anak laki-lakinya tahapan mencuci mobil, seperti memilah bagian yang dicuci (interior dan eksterior mobil), menyedot debu, membasahi badan mobil, menyabuni, mengeringkan, memoles dan mencuci detail ban.
  • Sambil mencuci mobil, ayah senang mengajarkan anak laki-lakinya nama-nama dan fungsi organ mobil.
3. Berkemah. Berkemah indentik dengan petualangan. Anak laki-laki senang sekali bertualang, apalagi bila ia menemukan tantangan berisiko. Berkemah dengan ayah, meski cuma dilakukan di halaman belakang rumah, terasa seru bagi Si Buyung. Apalagi biasanya ayah akan melibatkan dia melakukan tugas-tugas maskulin yang "sulit", seperti mendirikan tenda, menabur sekeliling tenda dengan garam, membuat api unggun dan berjaga malam.

Ayah merasa lebih aman bila anak laki-lakinya "nakal", sebab mereka ingin memastikan anak laki-lakinya tidak tumbuh menjadi pribadi yang lemah lembut atau feminin.

www.balitasehat.net
Read more...

Sabtu, 29 Januari 2011

PERMAINAN BAYI




TANTANGAN ASYIK, BERMAIN DENGAN BAYI

Ingin bayi anda aktif? Pandai-pandailah bermain dengannya. Selain mengasyikkan, juga mencerdaskan bayi.

"Tidur melulu! Kapan bisa diajak main?” bisa jadi inilah kesan pertama ibu dan ayah baru melihat bayi barunya. Satu, dua, tiga bulan…

Nah, tibalah saat menyenangkan. Diusia 3 bulan bayi tak lagi tdur melulu. Diantara jam-jam menyusunya, ia membuka mata, memandang wajah ibu atau ayahnya lekat-lekat, terkadang tersenyum, tapi tak jarang pula mengernyitkan dahi.

Diusia 3 bulan, rutinitas bayi lebih menetap. Anda pun kini lebih santai karena kelelahan mulai berkurang. Keinginan mengajak bayi bermain mulai terbersit. Tapi apa yang bisa dimainkan bersama seorang bayi? Ia ‘kan baru bisa telentang. Tengkurap pun masih perlu bantuan.

Meski baru bisa telentang, tak perlu ragu mengajak bayi anda bermain. Saat anda mengangkat tangan anda untuk melakukan gerakan dan mulai menyanyi, bayi anda memperhatikan tangan anda dengan takjub. Lihatlah gerakan tangan dan kaki, seolah ia ingin mengejar anda!

Belajar menanggapi

Diusia 3 bulan, bayi anda memang belum bisa mengendalikan gerakan tubuhnya. Gerakannya masih tampak seperti gerakan refleks dan tak beraturan. Tak apa, si kecil sedang belajr menanggapi permainan anda! Perlahan-lahan emosinya lebih tampak sejalan dengan berkembangnya ikatan emosinya terhadap anda.

Senyumnya lebih sering muncul. Senyumnya yang mulai terarah, lebih memudahkan anda mengenali permainan apa yang ia sukai. Merah dan menggenggam jari anda sudah dapat ia lakukan. Erat genggaman tangannya, memudahkan anda mengajaknya bermain gerak tangan. Tangan keatas,…kesamping… kebawah. Anda dapat mengombinasikan gerakan ini dengan nyanyiannya.

Bila si kecil melepaskan genggamannya pertanda ia lelah. Jangan paksa memainkan permainan ini. Melanjutkan permainan ini hanya akan membuatnya menangis karena… kelelahan!


Bermain bergantian

Semakin bertambah usia si kecil jam tidurnya kian berkurang. Ia butuh berbagai kegiatan bermain. Saat anak berusia 8 bulan, lebih banyak permainan yang dapat anda mainkan bersamanya. Kekuatan otot tangannya untuk memegang mainan, memudahkan anda memberinya rattle untuk ia goyangkan.

Anda dapat juga menawarkan si kecil mainan apa yang ia inginkan. Pertanyaan sederhana :”mau mainan yang mana?” dapat anda ajukan pada bayi anda. Tentu saja anda yang tahu jawaban si kecil. Dengan pandangan mata atau tangan yang diarahkan ke mainan yang ia maksudkan. Anda dapat mulai berkreasi memainkan permainan itu.

Bergantian dengan bayi, mmainkan mainan itu. Kalaupun ia belum sungguh-sungguh dapat memegangnya sendiri, melaetakkan mainan itu di hadapannya dan mebiarkan ia memegang atau sekadar menyentuh dapat membuatnya gembira.


Senang mendengar dan melihat

Lagu, sajak dan cerita, dapat menjadi sarana permainan yang menyenangkan. Anak senang mendengar suara orangtuanya. Menyanyi atau bercerita dapat membuat anak senang. Bahan cerita dapat anda peroleh dari selimut.

Si kecil, misalnya selimut bergambar kelinci. Bercerita atau menyanyi lagu kelinci sambil memperhatikan gambar kelinci di selimutnya membuat bayi anda gembira.

Mendengar cerita atau nyanyian anda, ia menyerap kosa kata. Bila saatnya belajar bicara, ia akan memunculkan kata-kata yang pernah ia dengar. Di usia 8 bulan ini anak tak perlu diminta menirukan kata-kata yang anda ucapkan. Biarkan ia hanya mendengarkan bunyi-bunyi kata yang anda ucapkan.

Bagaimana kalau bermain diluar rumah? Anda bisa memanfaatkan cuaca cerah. Bayi dapat diajak keluar rumah, diarea yang tidak terlalu panas. Bayi senang memperhatikan berbagai hal di sekitarnya. Pepohonan, kupu-kupu, bahkan tanaman itu aman untuk disentuh, bawa tangan bayi anda untuk menyentuh bunganya.

Gerakan kian lincah

Bermain ayun-ayun diaudara memberi sensasi pada bayi. Bila bayi sudah kuat mengangkat kepalanya, bermain helicopter yang terbang vertical membuatnya gembira. Mengayun anak dari arah bawah keatas tidak menakutkannya, asal ia pada posisi berhadapan dengan anda.

Gerakan bayi yang kian lincah, ekspresi emosi yang meningkat, memudahkan anda mengajaknya bermain. Anda pun dipermudah dalam mengenali emosinya. Apaka ia sedang ingin berdiam diri? Ingin bermain? Ekspresi kegembiraannya kerap kali membuat anda gemas dan ingin terus mengulang permainan yang sama.

Bermain mencari harta karun dapat anda lakukan bersama si kecil. Meski ia belum bisa berjalan, gerakan merangkak memungkinkannya berpindah tempat dengan cepat. Sembunyikan beberapa mainan bayi anda di balik selimut. Ikut merangkak, temukan bersamanya benda-benda di balik selimut. Sembunyikan lagi mainan si kecil, biarkan ia yang membuka selimutnya.

Manfaatkan setiap kesempatan

Bermain dengan bayi tak perlu rencana khusus. Berbagai kegiatan bayi yang bisa dilakukan sambil bermain. Mandi dan berganti bahu, bisa menjadi waktu bermain yang menyenangkan. Misalnya saja menempelkan busa sabun di pipi bayi, atau meniup busa yang ada di wajah bayi, bisa membuat si kecil bergembira. Suasana mandi yang menyenangkan membuat anak gemar mandi.

Bermain ciluk-ba dapat anda lakukan saat si kecil berganti pakaian. Saat bahu dikenakan dan melewati wajahnya, ucapkan “ciluuuk” kemudaian “ba” saat leher baju bayi melewati wajahnya. Anda masih dapat melanjutkan bermain ciluk-ba dengan ujung bawah pakaian bayi yang anda tutupkan di wajahnya.

Anda juga tak perlu pusing memikirkan alat permainan apa yang cocok utnuk dimainkan bersama bayi. Pernak-pernik perlengkapan bayi seperti topi, kaus kaki, gambar pada selimut, bassinet dan sarung bantal dapat anda manfaatkan.

Nikamati hari-hari bersama bayi anda. Berbagai permainan yang kerap anda mainkan bersamanya mendekatkan anda berdua, membuat bayi anda terhibur dan si kecil pun kian pandai.

SPONTAN LEBIH ASYIK

Bermain merupakan saran sangat penting untuk menjalin relasi dengan orang lain. Bermain merupakan cara alami bagi bayi untuk belajar. anda tak perlu menunggu bayi anda tumbuh menjadi kanak-kanak untuk bisa diajak bermain.

Segera ketika jam tidurnya mulai berkurang, anda dapat mengisi waktu antara menyusu dan tidur untuk bermain bersama bayi anda. Berikut ini beberapa hal yang penting anda cermati :

  • Saat bermain dengan bayi, perhatikan ekspresinya. Bayi bukan makhluk pasif, setiap bayi punya reaksi yang berbeda terhadap rangsang. Apakah ia tersenyum? Tertawa terkekeh-kekeh? Berceloteh ? diam saja? Mengerutkan kening? Apa pun reaksi bayi anda, anda perlu berkreasi dalam bermain. Bisa jadi anda harus trial and error.

  • Carilah sebanyak-banyaknya permainan untuk mendapatkan permainan yang disukai bayi anda.

  • Hindari melakukan berbagai permaian dalam waktu yang singkat karena hanya membuat bayi jenuh dan lelah.

  • Lakukan permainan dengan spontan karena lebih memunculkan kegembiraan. Suasana gembira yang anda ciptakan memberi pemahaman positif pada bayi anda bahwa bermain itu kegiatan menyenangkan.

Sumber : AYAHBUNDA Read more...

Jumat, 28 Januari 2011

BERMAIN DAN PERMAINAN



MAINAN ELEKTRONIK

Ribuan jenis mainan elektronik memikat anak, mana yang aman dan bermanfaat?

Semua umur, bahkan bayi, senang mainan elektronik. Ada music cube yang jika disentuh bisa menyanyikan mursery rhymes yang merdu. Ada pula buku elektronik dan computer buat balit. Semua asyik dan dipromosikan sebagai mainan yang mendidik. Apakah anda harus beli semuannya?

Cermati dulu

Cara produsen mainan electronic learning mengklaim maiannya mencerdaskan, menghibur dan aman. Benarkah begitu?

Yang tergolong mainan elektronik di sini adalah yang dioperasikan oleh betere dari yang seukuran kancing hingga ukuran besar seperti aki mini, yang bisanya digunakan mobil atau kendaraan beroda yang bisa dikendarai si 4 tahun.

Pertama, anda harus mengecek, apakah tombol mainan si kecil dioperasikan oleh batere bertenaga aman. Dalam panduan mainan aman yang disusun oleh pemerhati mainan di Inggris, tegangan yang diperkenankan untuk mainan anak, tidak boleh lebih dari 24 volt.

Batere yang bisa di-charge ulang tentu lebih ekonomis ketimbang sekali pakai langsung buang. Bukan apa-apa, mainan elektronik biasanya lebih mahal dibanding nonelektronik.

Aneka pilihan

Unsure penting lainnya adalah faktor kontruksi dan efek yang ditimbulkan mainan. Artinya, tidak ada komponen yang mudah lepas, tidak ada bentuk yang tajam atau bersudut, tidak menghasilkan suara bising, dibuat dari bahan yang aman dan tidak mudah pecah, robek atau terkelupas.

Mainan impor berkualitas baik biasanya dilengkapi kode lolos uji kemanan, dan unsure ekonomi, anda harus cermat membaca kemasan atau brosur perihal usia yang disarankan sebelum menjatuhkan pilihan.

Pilihan mainan elektronik meliputi jenis mainan yang sangat beragam. Antara lain, jenis mainan yang mengasah indera untuk bayi. Juga ada tokoh boneka yang mengeluarkan suara saat diremas. Untuk anak yang lebih besar, ada mobil mainan kecil yang dioperasikan batere, atau sepeda dan mobil yang dapat dikendarai. Selamat memilih.
(Dok. Ayahbunda)

COCOK DENGAN USIA

Bayi :

· Cat Mobile

· Baby gym

Batita :

· Learning Table / Activity Center

· Buku cerita elektronik

Balita :

· Mobil elektronik yang bisa dikendarai

· Laptop mini



Read more...

Sabtu, 04 Desember 2010

PERMAINAN BAYI




TANTANGAN ASYIK, BERMAIN DENGAN BAYI

Ingin bayi anda aktif? Pandai-pandailah bermain dengannya. Selain mengasyikkan, juga mencerdaskan bayi.

Tidur melulu! Kapan bisa diajak main?” bisa jadi inilah kesan pertama ibu dan ayah baru melihat bayi barunya. Satu, dua, tiga bulan…

Nah, tibalah saat menyenangkan. Diusia 3 bulan bayi tak lagi tdur melulu. Diantara jam-jam menyusunya, ia membuka mata, memandang wajah ibu atau ayahnya lekat-lekat, terkadang tersenyum, tapi tak jarang pula mengernyitkan dahi.


Diusia 3 bulan, rutinitas bayi lebih menetap. Anda pun kini lebih santai karena kelelahan mulai berkurang. Keinginan mengajak bayi bermain mulai terbersit. Tapi apa yang bisa dimainkan bersama seorang bayi? Ia ‘kan baru bisa telentang. Tengkurap pun masih perlu bantuan.

Meski baru bisa telentang, tak perlu ragu mengajak bayi anda bermain. Saat anda mengangkat tangan anda untuk melakukan gerakan dan mulai menyanyi, bayi anda memperhatikan tangan anda dengan takjub. Lihatlah gerakan tangan dan kaki, seolah ia ingin mengejar anda!

Belajar menanggapi

Diusia 3 bulan, bayi anda memang belum bisa mengendalikan gerakan tubuhnya. Gerakannya masih tampak seperti gerakan refleks dan tak beraturan. Tak apa, si kecil sedang belajr menanggapi permainan anda! Perlahan-lahan emosinya lebih tampak sejalan dengan berkembangnya ikatan emosinya terhadap anda.

Senyumnya lebih sering muncul. Senyumnya yang mulai terarah, lebih memudahkan anda mengenali permainan apa yang ia sukai. Merah dan menggenggam jari anda sudah dapat ia lakukan. Erat genggaman tangannya, memudahkan anda mengajaknya bermain gerak tangan. Tangan keatas,…kesamping… kebawah. Anda dapat mengombinasikan gerakan ini dengan nyanyiannya.

Bila si kecil melepaskan genggamannya pertanda ia lelah. Jangan paksa memainkan permainan ini. Melanjutkan permainan ini hanya akan membuatnya menangis karena… kelelahan!


Bermain bergantian

Semakin bertambah usia si kecil jam tidurnya kian berkurang. Ia butuh berbagai kegiatan bermain. Saat anak berusia 8 bulan, lebih banyak permainan yang dapat anda mainkan bersamanya. Kekuatan otot tangannya untuk memegang mainan, memudahkan anda memberinya rattle untuk ia goyangkan.

Anda dapat juga menawarkan si kecil mainan apa yang ia inginkan. Pertanyaan sederhana :”mau mainan yang mana?” dapat anda ajukan pada bayi anda. Tentu saja anda yang tahu jawaban si kecil. Dengan pandangan mata atau tangan yang diarahkan ke mainan yang ia maksudkan. Anda dapat mulai berkreasi memainkan permainan itu.

Bergantian dengan bayi, mmainkan mainan itu. Kalaupun ia belum sungguh-sungguh dapat memegangnya sendiri, melaetakkan mainan itu di hadapannya dan mebiarkan ia memegang atau sekadar menyentuh dapat membuatnya gembira.


Senang mendengar dan melihat

Lagu, sajak dan cerita, dapat menjadi sarana permainan yang menyenangkan. Anak senang mendengar suara orangtuanya. Menyanyi atau bercerita dapat membuat anak senang. Bahan cerita dapat anda peroleh dari selimut.

Si kecil, misalnya selimut bergambar kelinci. Bercerita atau menyanyi lagu kelinci sambil memperhatikan gambar kelinci di selimutnya membuat bayi anda gembira.

Mendengar cerita atau nyanyian anda, ia menyerap kosa kata. Bila saatnya belajar bicara, ia akan memunculkan kata-kata yang pernah ia dengar. Di usia 8 bulan ini anak tak perlu diminta menirukan kata-kata yang anda ucapkan. Biarkan ia hanya mendengarkan bunyi-bunyi kata yang anda ucapkan.

Bagaimana kalau bermain diluar rumah? Anda bisa memanfaatkan cuaca cerah. Bayi dapat diajak keluar rumah, diarea yang tidak terlalu panas. Bayi senang memperhatikan berbagai hal di sekitarnya. Pepohonan, kupu-kupu, bahkan tanaman itu aman untuk disentuh, bawa tangan bayi anda untuk menyentuh bunganya.

Gerakan kian lincah

Bermain ayun-ayun diaudara memberi sensasi pada bayi. Bila bayi sudah kuat mengangkat kepalanya, bermain helicopter yang terbang vertical membuatnya gembira. Mengayun anak dari arah bawah keatas tidak menakutkannya, asal ia pada posisi berhadapan dengan anda.

Gerakan bayi yang kian lincah, ekspresi emosi yang meningkat, memudahkan anda mengajaknya bermain. Anda pun dipermudah dalam mengenali emosinya. Apaka ia sedang ingin berdiam diri? Ingin bermain? Ekspresi kegembiraannya kerap kali membuat anda gemas dan ingin terus mengulang permainan yang sama.

Bermain mencari harta karun dapat anda lakukan bersama si kecil. Meski ia belum bisa berjalan, gerakan merangkak memungkinkannya berpindah tempat dengan cepat. Sembunyikan beberapa mainan bayi anda di balik selimut. Ikut merangkak, temukan bersamanya benda-benda di balik selimut. Sembunyikan lagi mainan si kecil, biarkan ia yang membuka selimutnya.

Manfaatkan setiap kesempatan

Bermain dengan bayi tak perlu rencana khusus. Berbagai kegiatan bayi yang bisa dilakukan sambil bermain. Mandi dan berganti bahu, bisa menjadi waktu bermain yang menyenangkan. Misalnya saja menempelkan busa sabun di pipi bayi, atau meniup busa yang ada di wajah bayi, bisa membuat si kecil bergembira. Suasana mandi yang menyenangkan membuat anak gemar mandi.

Bermain ciluk-ba dapat anda lakukan saat si kecil berganti pakaian. Saat bahu dikenakan dan melewati wajahnya, ucapkan “ciluuuk” kemudaian “ba” saat leher baju bayi melewati wajahnya. Anda masih dapat melanjutkan bermain ciluk-ba dengan ujung bawah pakaian bayi yang anda tutupkan di wajahnya.

Anda juga tak perlu pusing memikirkan alat permainan apa yang cocok utnuk dimainkan bersama bayi. Pernak-pernik perlengkapan bayi seperti topi, kaus kaki, gambar pada selimut, bassinet dan sarung bantal dapat anda manfaatkan.

Nikamati hari-hari bersama bayi anda. Berbagai permainan yang kerap anda mainkan bersamanya mendekatkan anda berdua, membuat bayi anda terhibur dan si kecil pun kian pandai.

SPONTAN LEBIH ASYIK

Bermain merupakan saran sangat penting untuk menjalin relasi dengan orang lain. Bermain merupakan cara alami bagi bayi untuk belajar. anda tak perlu menunggu bayi anda tumbuh menjadi kanak-kanak untuk bisa diajak bermain.

Segera ketika jam tidurnya mulai berkurang, anda dapat mengisi waktu antara menyusu dan tidur untuk bermain bersama bayi anda. Berikut ini beberapa hal yang penting anda cermati :

  • Saat bermain dengan bayi, perhatikan ekspresinya. Bayi bukan makhluk pasif, setiap bayi punya reaksi yang berbeda terhadap rangsang. Apakah ia tersenyum? Tertawa terkekeh-kekeh? Berceloteh ? diam saja? Mengerutkan kening? Apa pun reaksi bayi anda, anda perlu berkreasi dalam bermain. Bisa jadi anda harus trial and error.

  • Carilah sebanyak-banyaknya permainan untuk mendapatkan permainan yang disukai bayi anda.

  • Hindari melakukan berbagai permaian dalam waktu yang singkat karena hanya membuat bayi jenuh dan lelah.

  • Lakukan permainan dengan spontan karena lebih memunculkan kegembiraan. Suasana gembira yang anda ciptakan memberi pemahaman positif pada bayi anda bahwa bermain itu kegiatan menyenangkan.

Sumber : AYAHBUNDA Read more...

Senin, 31 Mei 2010

RUMAH BONEKA



Aneka permainan imajinatif sangat mendukung mainat sikecil untuk mempelajari banyak hal.

Anak-anak belajar menanggapi lingkungan melalui permainan. Si kecil mencoba berperan sebagai orang dewasa sperti dilihatnya dalam keseharian lewat permainan rumah-rumahan.

Bermain boneka lengkap dengan “rumahnya” merupakan bagian dari bermain peran. Rumah boneka yang aman, baik untuk tujuan itu.

Sedangkan boneka, dalam imajinasi anak-anak, itu hidup, menangis, tertawa, makan dan berbagi pengalaman hidup. Pilihlah boneka yang tidak bergerak dengan tenaga baterei karena biasanya bergerak monoton dan membosankan, serta tidak memenuhi kebutuhan anak untuk berimajinasi.

Belajar keterampilan hidup

Mainan rumah boneka inimemberi kesempatan pada anak untuk mengelola sendiri rumahnya. Ketika akan meletakkan kitchen, sofa, meja setrikaan dan meja makan, anak bebas merancang sebuah aktivitas yang akan diperankan para boneka. Untuk merangsang kreativitas anak mengatur ruangan. Anda dapat menambahnya dengan mainan vas bunga.
Melalui permainan rumah boneka ini anak mengasah keterampilan:

• Komunikasi
Bila dimainkan sendiri, permainan ini merangsang keterampilan anak berkomunikasi. Si kecil berperan sebagai ayah, ibu, anak, bahkan binatang peliharaan. Selain itu menambah kreativitas si kecil karena ada “permainan” lain, yaitu interior dan aktivitas sehari- hari.

• Berimajinasi
Selain mengembangkan imajinasi juga menambah perbendaharaan kata anak. Misalnya pura-pura jadi ayah yang sedang melakukan pekerjaan rumah merupakan cara menyenangkan untuk belajar kata-kata baru.

• Sosial
Bila dimainkan anak bersama beberapa tamannya, si kecil mengasah kemampuan sosialnya. Setiap anak memilih perannya dan saat berinteraksi tak jarang menimbulkan masalah. Anak lantas berusaha menyelesaikan persoalan nsi antara mereka. Ketika berebut berperan jadi ibu/anak, misalnya, si kecil belajar berorganisasi.

RUMAH BONEKA BUATAN SENDIRI

Rumah boneka lengkap dengan perabotannya dari bermacam bahan (kayu, kain, plastik) mudah anda dapatkan bersama si kecil bisa jadi lebih asyik.

Anda dan anak dapat membangun rumah boneka dari kardus atau kotak bekas.

Jika anda terampil menjahit, membuat rumah boneka dari kain perca dapat dicoba. Tentu perlu kreativitas dalam mewujudkannya. Selamat mencoba!


Sumber : AYAHBUNDA
Read more...

Jumat, 28 Mei 2010

RUMAHKU, TAMAN BERMAINKU


Bagi anak, rumah tidak saja sebagai tempat tinggal ternyata juga dapat disulap sebagai arena bermain yang tak kalah menariknya dengan arena bermain di mal atau taman bermain.

Asalkan orang tua kreatif sebetulnya rumah tidak hanya menyenangkan dan tempat berbagi dengan anggota keluarga, juga dapat disulap sebagai taman bermain bagi si kecil. Namun syaratnya, tentu saja bila rumah ini dapat memberi kenyamanan bermain dalam ukuran anak.

Maka tatkala Nabi saw , idola kita, mengatakan rumahku adalah surgaku tentulah bukanlah hal yang berlebihan. Rumah ternyata betul-betul menjadi surga, semua anggota keluarga merasa nyaman dan kerasan ketika berada di rumah. Hanya saha bagaimana kita mendisain rumah sebagai tempat tinggal juga arena bermain bagi si kecil. Tak perlu rumah besar, kalu memang memungkinkan tentu saja lebih baik, tetapi rumah kecil pun ternyata dapat menjadi teman bermain.

Hampir sebagian waktu anak berada di rumah sebagai lingkungan terdekat. Hari-harinya dihabiskan dirumah, maka tak heran bila 3 (tiga) tahun pertama kehidupan anak dihabiskan dirumah sehingga memiliki kedekatan fisik dan emosi yang kuat dengan orang tua.

Karena kedekatan inilah, orangtua sebenarnya memiliki bekal kuat untuk menjadi tutor atau teman bermain anak. Tentu saja, asalkan orangtua mau menyisihkan waktu dan punya komitmen. Karena itu bila anda ingin kecerdasan si kecil berkembang baik, jadikan rumah sebagai medium bermain dan belajar terbaik baginya.

Agar kebebasan eksplorasi bermain anak berlangsung baik, anda perlu melakukan encouraging parenting dengan memberi kemudahan padanya. Sediakalah alat bermain alias mainan yang lunak, berbunyi, bertekstur dan berwarna cerah. Daripada meletakkannya di depan televise, lebih baik kelilingi si kecil dengan aneka mainan dan ajaklah ia untuk aktif mengeksplorasi mainan itu.

Memang pilihan permainan yang cocok dapat memberikan manfaat yang baik untuk fisik maupun psikis anak. Tak perlu pula bahwa mainan tersebut harus mahal, murah meriah. Menurut para ahli, benda-benda didalam rumah pun dapat dimanfaatkan sebagai sarana bermain bersama anak. Sayaratnya, tentu saja benda tersebut tak membahayakan si kecil.

Ada banyak keuntungan yang diperoleh dengan bermain di dalam rumah. Misal, orangtua tentu menjadi lebih kreatif memilih bentuk permainan apa saja yang bisa dimainkan bersama si kecil. Selain itu, dari segi biaya menjadi lebih hemat. Anak juga tak akan cepat bosan karena banyak ide yang dapat digali bersama saat bermain. Terakhir, bermain di dalam rumah juga menghibur si kecil yang kondisinya sedang tidak fit dan tak memungkinkan berada di luar rumah.

Jenis permainan yang bisa dilakukan dirumah, pada dasarnya seluruh permainan yang berfokus pada brain games dapat dimainkan di rumah. Mulai permainan yang bersifat eksplorasi ruang-petak umper-sampai mengasah kemampuan motorik seperti main kaereta api, ular naga, kuda poni membawa beban, atau terowongan. Bahkan, saat mandi pun bisa menjadi sarana penunjang brain games.

Petak umpet

Permainan eksporasi ruang akan sangat menarik minat si kecil yang baru saja dapat berjalan. Aktivitas melompat, berlari dan menyelinap akan sangat menyenangkan baginya. Seperti biasa, lakukan secara bergantian. Mintalah ia mencari anda, dengan memberinya petunjuk sperti suara binatang atau bunyi-bunyi lain yang menarik perhatiannya. Biarkan ia menikmati sensasi mencari danmenemukan tempat anda bersembunyi di belakang sofa pintu atau di balik tumpukan bantal.

Saat si kecil bersembunyi, ciptakanlah situasi “menegangkan”. Anda bisa berpura-pura kebingunan mencarinya, sambil memanggil-manggil namanya. Atau pura-pura salahmenerka tempat persembunyiannya. Permainan ini akan melatih anak memecahkan masalah dalam berbagai situasi. Saat anak harus mencari, ia akan berpikir dimana menemukananda. Sementara saat anak bersembunyi, gentian ia yang berfikir bagaimana anda tak bisa menemukannya.

Kuda poni

Ini permainan menghibur untuk si kecil yang sudah dapat duduk dengan kokoh. Anda bisa menjadi “kuda poni” dan si kecil menjadi “beban”nya. Merangkaklah dengan posisi lebih rendah, agar kaki si kecil tetap bisa menapak ke lantai. Mintalah ia berpegangan erat atau mintalah pengasuhnya mengawasi di belakang.

Lakukan variasi dengan merunduk, duduk siap hendak berlari kelelahan, atau “kuda poni” berpura-pura minum. Saat kuda poni hendak berlari, mintalah si kecil berpegangan erat atau saat hendak mulai berjalan, ajarkan ia untuk mengetakkan kakinya ke tubuh kuda poni.

Permainan ini akan merangsang daya imajinasi anak, selain mengajarnya untuk menjaga keseimbangan. Pilih arena bermain yang aman seperti di atas kasur, karpet, atau alas bermain yang cukup empuk untuk menghindari benturan yang membahayakan.

Sebenarnya banyak ragam permainan lain yang bisa. Anda ciptakan dengan memanfaatkan ruang dan benda yang berada di rumah. Masalahnya, bagaimana anda menggali ide kreatif agar permainan berlangsung dalam suasana gembira dan tak membosankan. Mudah dan simple, kan.NABILA/1/2005

Read more...

Kamis, 06 Mei 2010

BEBAS MENGGAMBAR APA SAJA


Hentikan "campur tangan" Anda. Biarkan anak menggambar sesuka hatinya untuk mengembangkan kemampuan motorik dan imajinasinya.

Menggambar tentunya terkait dengan perkembangan motorik kasar dan halus seorang anak. Selain itu, menggambar dapat meningkatkan kemampuan otak kanan anak untuk visualisasi, yang pada akhirnya memiliki peranan sangat penting untuk meningkatkan semua aktivitas intelektual. Dari pemecahan masalah sampai pada penguasaan pengetahuan baru dengan lebih mudah dan efisien.

Agar seorang anak berhasil, ia membutuhkan kemampuan terbaiknya untuk menghadapi tantangan hidup. Kemampuan itu berasal dari hasil interaksi fungsi belahan otak kanan dan kiri. Seorang peneliti sains Jerre Lery mengatakan, "Otak yang normal memang diciptakan untuk tantangan. Dia hanya akan bekerja optimal bila persyaratan pemrosesan pengertian itu cukup kompleks untuk menggerakkan kedua belahan otak."
Nah, aktivitas menggambar rupanya dapat mengembangkan kemampuan otak kiri dan terutama kanan. Dengan catatan, biarkan anak menggambar bebas sebebas imajinasinya.


TAHAPAN MENGGAMBAR

Pada rentang usia prasekolah (3-6 tahun), anak masuk dalam 2 tahapan tingkat menggambar, yaitu:

TAHAP CORENG MENCORENG

Dimulai dari usia 2 tahun dan berakhir di usia 4 tahun. Tahap ini terbagi menjadi tahap tak beraturan, tahap corengan terkendali dan tahap corengan bernama. Pada masa ini anak belum menggambar untuk mengutarakan suatu maksud. Anak hanya ingin membuat sesuatu yang dikemukakannya melalui mencoreng. Setelah mencoreng anak akan merasa senang. Tahap ini merupakan

masa permulaan bagi anak untuk menggambar yang sesungguhnya. Di akhir tahap ini anak mulai memberi nama pada corengannya, mulailah corengan tersebut bermakna sebagai ungkapan emosi anak.

Sering kali, kita melihat hasil karya anak di tahap ini seperti benang kusut yang acak dan tidak berarti. Padahal mungkin itu sangat berarti bagi si anak. Mungkin ada cerita yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu orang dewasa, baik orangtua dan lainnya, tidak dianjurkan mengkritik hasil corengan anak. Kritik yang berlebihan atau terus-menerus akan membuat gambar anak tidak komunikatif sehingga ia tak mau lagi melakukan kegiatan mencoreng.

2. TAHAP PRABAGAN

Dimulai dari usia 4 tahun dan berakhir pada usia 7 tahun. Di tahap ini motorik anak sudah lebih berkembang. Ia bisa mengendalikan tangan dan menuangkan imajinasinya dengan lebih baik. Di tahap ini anak menggambar dengan penekanan pada bagian yang aktif dan sering melupakan beberapa bagian. Contoh, jika anak menggambar orang, maka penekanan dilakukan pada bagian kepala, tangan dan kaki. Sering kali kita melihat anak pada tahapan ini menggambar orang sebagai satu keutuhan lingkaran dengan mata, tangan dan kaki yang juga menempel pada lingkaran tersebut.

Pada tahap ini anak lebih mengutamakan hubungan gambar dengan objek daripada hubungan warna dengan objek. Kerap kali kita temukan gambar dengan warna yang tidak sesuai aslinya. Umpama, langit warna merah, jalan warna kuning, dan sebagainya. Objek gambar pun masih dari objek-objek yang ada di sekitarnya, seperti orangtua, binatang peliharaannya, dan lainnya. Maka dari itu, orangtua perlu mengenalkan berbagai hal dan objek-objek yang dapat dieksplorasi oleh anak untuk dituangkan dalam bentuk gambar.

PENDIDIK & ANAK

Bila kemampuan menggambar seorang anak tidak sesuai dengan tahapan usianya, tak perlu kita langsung berkesimpulan bahwa ia mengalami keterlambatan ataupun ketidakmampuan dalam menggambar. Asal tahu saja, banyak faktor yang memengaruhi kemampuan menggambar seorang anak, antara lain:

* Faktor Pendidik

  • Kritik orangtua maupun guru terhadap hasil karya anak dapat membuat hatinya terluka, merasa gagal, dan malu melakukan aktivitas menggambarnya kembali.
  • Kurangnya dorongan dari pendidik untuk anak beraktivitas, mengeksplorasi alam sekitar dan menuangkan imajinasinya ke dalam gambar.
  • Metode pengajaran yang diterapkan justru menghambat kreativitas anak. Salah satunya dengan cara selalu memberikan contoh gambar dan warna yang baku untuk diikuti oleh anak. Hal ini membuat anak tak bisa mengekspresikan apa yang dipikirkannya secara bebas. Padahal tentunya tiap anak memiliki cara berekspresi yang beda.
* Faktor Anak
  • Kemampuan motorik kasar dan halus yang merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak sesuai usianya.
  • Keinginan atau minat anak terhadap menggambar. Sebenarnya, setiap anak pasti bisa menggambar karena gambar merupakan bahasa rupa. Namun, jika anak tidak difasilitasi dan diberi ruang berekspresi, bisa saja dorongan untuk menggambar itu tidak terlihat.
UPAYA ORANGTUA

Nah, agar anak mau menggambar dan dapat melalui tahapan perkembangannya dengan optimal, inilah beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua:
- Berikan dorongan kepada anak untuk menuangkan imajinasinya menjadi gambar.
- Dampingi anak saat ia melakukan aktivitas tersebut, sehingga anak merasa mendapat dukungan. Selama mendampingi anak hindari mencampuri cara berekpresinya dengan memberi instruksi ini atau itu.
  • Biarkan anak menceritakan apa yang digambarnya. Jangan mengkritiknya.
  • Berikan pujian dan motivasi kepada anak akan hasil karyanya.
  • Jangan selalu memberikan buku mewarnai. Sebaiknya, berikan kertas kosong untuk anak menggambar sesuai dengan "sidik jarinya".
  • Sediakan bahan dan alat yang diperlukan supaya anak dapat bereksplorasi secara luas. Jangan hanya dengan pensil warna saja, tapi sediakan juga bahan lain seperti krayon, cat air, cat akrilik, spidol, kapur, dan arang sekalipun.
  • Biarkan anak menggambar sesuai dengan perkembangannya. Tak perlu dikoreksi.
Dedeh Kurniasih/nakita
Narasumber:
dr. Cissie Nugraha, MARS,
dari Cissie Art Creative

Read more...

Rabu, 05 Mei 2010

BERMAIN PERAN : METODE ALTERNATIF ATASI RASA TAKUT


Selain bias jadi obat mujarab mengatasi rasa takut, bermain peran (role paly) juga merangsang imajinasi dan kemampuan verbal si prasekolah.

“Ibuuuu…ada ayam, aku takut!” jerit Susan, seorang bocah prasekolah sambil berlari kencang dan mencoba berlindung di belakang ibunya saat melihat hewan peliharaan tetangganya melintas di depannya.
Ah..masa sudah gede takut sama ayam. Kamu kan, suka makan ayam?” goda si ibu.

Memang sih, metode semacam ini amat tokcer untuk “memaksa” anak mau menuruti keinginan orang tuanya. Alhasil anak selalu takut jika melihat bahkan mendengar suara sosok siapa pun atau binatang yang selama ini dianggap menakutkan si kecil tersebut sebetulnya sama sekali tak berbahaya. “Itulah akibat yang mestinya dicermati kalau orang tua hanya mencari jalan pintas dengan cara menakut-nakuti anak,” tegas psikolog dari biro konsultan Karim.

1. Berimajinasi lewat Role play

Bermain peran, jelas psikolog yang akrab disapa Tika, menjadi satu satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi rasa takut anak. Dalam permainan ini si anak memerankan sosok yang selama ini dianggap menakutkannya. Ketakutan yang bercokol dalam diri si kecil dimanifestasikan melalui cara ini, hingga diharapkan dia rak memiliki rasa takut lagi dikemudian hari.

Bermain peran juga dapat membuat anak pandai berimajinasi karena memerankan sosok yang bukan dirinya. Misalnya, dia mengkhayalkan dirinya menjadi dokter yang menurutnya termasuk sosok menyeramkan. Melalui cara ini, anak belajar berempati pada posisi orang lain. Selain belajar bereksplorasi dan berimajinasi sertameningkatkan kemampuan verbal, dengan bermain peran anak juga diharapkan dapat mengatasi rasa takut dalam dirinya.

Berikut ini rasa takut yang banyak dialami anak dan cara mgatasinya dengan cara bermain peran :

• Takut dokter

Anak biasanya takut karena pengalamannya pernah disuntik yang ternyata rasa cukup menyakitkan bagi mereka. Maka tak heran, baru memasuki ruangan dokter atau melihat peralatan sampai mencium “bau” obatnya saja, anak sudah menjerit-jerit atau menangis histeris apalagi kalau saat diperiks dan disuntik.

Penyebab: selain karena punya pengalaman traumatic, bias jadi ia dulu kenyang ditakut-takuti bakal disuntik dan sebagainya oleh orang tuanya.

• Cara mengatasinya:

Anak memainkan peran sebagai dokter, sedangkan orang tua atau kakak/adik berpura-pura menjadi passiennya. Gunakan mainan berbentuk alat-alat yang bias digunakan dokter, sperti stetoskop. Biarkan anak bereksplorasi dan berimajinasi memerankan dokter yang sedang memreiksa pasien.

Secara tak langsung, anak menjadi tahu bagaimana cara dokter menghadapi pasien-pasien ysng takut ndiperiksa. Semisal dengan cara menengkan “jangan takut ya, bu-pak. Saya Cuma periksa sebentar aja kok. Kalaupun harus dusuntik,enggak sakit, kok. Kan, supaya lekas sembuh.” Dengan berpura-pura memberikan nasehat seperti itu bukan tidak mungkin sosok dokter justru menarik minatnya dan malah bercita-cita menjadi dokter.

• Takut pada orang yang baru dikenal

Tak jarang anak-anak tampak takut pada orang yang pertama kali ditemuinya. Dia akan berusaha menjaga jarak, apalagi orang yang menghampirinya itu berwajah kurang “bersahabat”. Yang juga kerap terjadi, orang itu terkesan berlebih saat menasehati anaknya untuk tidak terlalu akrab dengan orang yang tidak dikenal. “Awas, kamu hjangan deket-deket sama orang yang enggak kamu kenal. Bias-bisa kamu nanti diculik, lo!”

Memang sih, ada segi positifnya bila orang tua senantiasa wanti-wanti si kecil agar waspada terhadap orang lain atau yang baru dikenalnya. Tapi tentunya bukan dengan cara berlebihan yang menyebabkan si kecil malah selalu ketakutan pada orang lain.

• Cara mengatasinya :

Ajak anak bermain tamu-tamuan. Ikutkan pula teman-temannya. Posisikan dia untuk bergantian memainkan peran sebagai tamu yang berkunjung ke rumah orang lain, atau sebagai nyonya rumah yang kedatangan tamu. Bermain peran untuk mgikis rasa takut pada orang lain juga bias dilakukan dalam berbagai situasi, seperti took, sekolah, dan tempat keramaian lainnya.

• Takut binatang

Adalah hal yang wajar bila takut pada binatang yang baru pertama kali dilihatnya. Apalagi bila hewan itu kelihatannya buas dan menyeramkan. Hanya saja sungguhsayang bila orang tua tak berusaha menjelaskan dan memperkenalkan anak pada binatang-binatang yang ditemuinya tadi. Seperti mengajaknya mengelus-elus bulu kucing atau memberi makanan pada induk ayamm dan anak-anaknya. Sangat tidak bijaksana pula jika orang tua menambah rasa takut pada binatang yang sebenarnya relative tidak membahayakan “Awas, jangan dekat-dekat, nanti kamu dicakar kucing.”

• Cara mengatasinya :

Anak bermain peran sebagai pemandu/pelatih sirkus yang sehari-hari melatih binatang. Ini akan menyadarkan anak bahwa binatang pada dasarnya bias dilatih untuk menurut dan diajak bekerja sama. Cara lain adalah dengan bermain sandiwara di panggung yang menggelar cerita tentang hewan-hewan sebagai sahabat manusia.

• Takut hantu

Banyak tayangan televise yang menyajikan program acara bertajuk cerita hantu tak ayal ikut mempengaruhi kadar rasa takut anak-anak. Ironisnya, tak sedikit orang tua yang menjadikan cerita hantu sebagai “senjata” untuk menakut-nakuti si kecil. Meskipun rasa takut pada hantu bias saja terjadi akibat faktor “ genetic” berupa sikap penakut dari orang tuanya.

• Cara mengatasinya :

Anak bermain peran sebagai hantu yang selalu membantu orang kesuliutan seperti film/buku cerita casper. Atau bias juga berperan sebagai penyihir yang baik hati. Jadi, anak mempersepsikan hantu bukan sebagai sosok yang menakutkan.

• Takut sekolah

Anak yang pertama kali masuk TK awalnya takut beradaptasi dan bersosialisasi dengan guru dan teman-teman barunya. Terlebih bila orang tua juga tak berusaha memperkenalkan si kecil pada temannya.

• Cara mengatasinya :

Sebelum didaftarkan masuk TK, anak diajak bermain sekolah-sekolahan. Anak bermain peran sebagai murid atau guru. Saudara sepupu si kecil atau tetangga yang seusia bias dilibatkan untuk berpura-pura sebagai murid. Sehingga anak tak takut dan tak canggung lagi di hari pertamanya masuk TK.

2. Berkembang jadi fobia

Jika sejak kecil anak selalu takut, sementara tak ada dorongan dari orang tua untuk mengatasi rasa takut tersebut, tidak tertutup kemungkinan ketakutannya bias berkembang menjadi fobia/takut yang berlebihan. “kalau tak diantisipasi, bias menjadi sesuatu yang menghambat segalanya. Kemana-mana takut, hingga jiwanya tak berkembang.” Tutur Tika.

Padahal sebagai orang tua seharusnya tahu bahwa membutuhkan rasa aman dan nyaman. Bila lingkungan malah membuat anak makin mmerasa takut, maka jangan harap bakal tercipta rasa aman dan nyaman. Kelak jika suasana takut terus-menerus “dipelihara”, justru proses bermain dan belajar si anak akan terganggu juga.

Selain karena lingkungan yang tidak mendukung anak untuk Mengatasi rasa takut, ternyata penelitian juga menunjukkan bahwa fobia itu “ditularkan” oleh orang tua, terutama sang ibu. Pasalnya sosok ibu lebih memiliki kedekatan emosional dengan si anak daripada ayah. Contoh konkret, bila ibu takut pada suasana gelap, maka secara otomatis bila kondisi itu muncul, ibu secara spontan akan mencengkeram tangan si kecil. Dengan kata lain bias membuat anak ikut-ikutan takut.

Nah, untuk menghilangkan fobia takut ini dibutuhkan proses dan latihan. Yang patut diperhatikan, ketakutan irasional ini bias menggeneralisasi alias bias berdampak sangat luas dan parah. Misalnya, anak yang takut ayam, jangankan bertemu dengan hewan petelur itu, mendemngar suara ayamm berkotek saja sudah bergidik. Atau contoh lain jika di masa kecil selalu ditakut-takuti buaya, melihat cicak yang memiliki kemiripan dengan buaya sudah mampu membuat takut.

Kasus yang cukup parah adalah seorang anak yang secara tak sengaja menyaksikan kilatan petir di siang hari diiringi suara yang menggelar sehingga membuatnya terkejut bukan kepalang. Apa akibatnya? Dia takut pada suasana siang hari. Anak itu meminta orang tuanya untuk menutup rapat jemdela sekaligus gordennya serta tak boleh ada nyala lampu di rumahnya. Si anak justru senang pada suasana gelap karena dia beranggapan jika gelap gulita taka nada petir. Dampak yang paling parah, sepanjang hari dia terus menutup telinganya meskipun tak ada mendung atau hujan yang rawan muncul petir bersahutan.” Generalisasi bias sangat luas,” papar Tika.

Bgi anak yang takut dokter,perasaan ini dapat tergeneralisasi pada hal-hal lain yang memang masih berhubungan. Umpamanya, melihat orang yang berbaju putih saja dia akan ketakutan. Atau ketika mendengar orang menyebutkan kata “dokter”, ia langsung berdebar-debar meski tak ada sangkut paut dengan dirinya. Tak heran begitu masuk ruang periksa atau bertemu dengan dokter dalam sosok yang nyata, pastilah dia menjerit-jerit dan menangis ketakutan.

3. Peran aktif orang tua

Menurut literature, anak usia prasekolah mulai mengetahui sesuatu atau sosok yang menakutkan dari buku-buku cerita dongeng atau melaui video, film kartun dan tayangan televise lainnya yang bertubi-tubi. Misalnya sajian bertopik kriminalitas atau kisah-kisah bernuansa misteri/hantu.

Kebiasaan menakut-nakuti anak, sudah saatnya ditinggalkan. Mestinya orang tua menyadari efek berkepanjangan yang bias ditimbulkan. Kalaupun anbak susah diatur, tak ada salahnya mencari cara lain yang lebih bijak. Yang pasti, jangan sampai mengusik rasa aman dan nyaman si prasekolah. Orang tua juga seyogyanya menjadi sosok teladan bagi si kecil. Artinya, bila ibu/bapak sendiri adalah seorang yang penakut, maka jangan heran bila sifat ini “ menular” pada anak. Jadi, setakut apa pun, orang tua harus berupaya untuk tampil yakin dan tetap tenang, terutama ketika berada di hadapan anak.

Usahakan lainnya adalah mencoba membangun sikap positif. Misalnya, memberikan penjelasan kepada anak bahwa sosok dokter itu baik hati dan pintar. Alhasil, rasa takut anak terhadap dokter, klinik atau rumah sakit berangsur-angsur bias terkikis bahkan lenyap.

Ada baiknya pula orang tua meluangkan waktu untuk mendengarkan dengan telinga dan hati, apa gerangan yang ditakutkan anak. Tentunya tak sekedar menyimak pembicaraan si kecil, berilah dukungan yang positif dan penjelasan yang memenangkan agar anak dapat mengtasi rasa takut.

Read more...

Kamis, 29 April 2010

SATU... DUA... TIGA...EMPAT....




Mengenal bilangan, melatih daya ingat anak. Latihlah tanpa paksaan dan dengan cara menyenangkan.

Dalam sebuah wawancara, fisikawan Prof. Yohanes Surya, menceritakan bahwa putri keduanya, Marie Felicia Surya, sudah bisa melakukan penjumlahan, pengurangan, dan perhitungan matematika sederhana lainnya di usia 2 tahun. Kemampuan ini terus berkembang. Di saat anak-anak seusianya baru bisa melakukan penjumlahan sederhana, Marie sudah bisa menghitung akar suatu angka! Mencengangkan? Tentu saja. Ketika ditanya bagaimana mengajarinya, dengan santai Pak Yo, panggilan akrabnya, menjawab, "Biasa saja. Seperti anak-anak lain, saya memulainya dengan mengenalkan angka. Ternyata ia sangat suka."

MANFAAT KENAL BILANGAN

Usia batita adalah saat yang tepat untuk mengenalkan anak pada bilangan dan angka. Jangan khawatir anak akan "pusing" atau menolaknya. Yang penting caranya harus menyenangkan. Banyak manfaat yang didapat anak dengan mengenal bilangan, di antaranya: anak menjadi familiar dengan angka yang akan ditemui di sepanjang kehidupannya, dan selanjutnya lebih mudah memberi pemahaman arti angka. Selain itu, mengenal bilangan bisa menjadi salah satu cara untuk melatih daya ingat anak.

Memang semakin cepat dikenalkan semakin baik. Namun jangan memaksa anak terlalu jauh, misalnya langsung mengenalkan operasi hitungan tambah dan kurang. Meski ada satu-dua anak yang bisa menguasainya di usia batita, itu adalah kasus khusus. Yang juga harus diperhatikan adalah kesiapan fungsi mental anak. Secara umum pada tahap pertama, batita cukup mengenal bilangan 1-10. Setelah kemampuan tersebut dikuasainya, sebaiknya dilanjutkan dengan pemaknaan. Contoh, saat memegang satu buah apel jelaskan bilangan dan simbol angkanya. Dengan demikian anak bisa mengkoding angka satu dalam bentuk jumlah. Melalui benda konkret anak lebih mudah mencapai pemahaman. Setelah itu, anak boleh dikenalkan dengan angka yang lebih besar, umpamanya sampai 20.

Secara teori, seperti halnya membaca dan menulis, bila anak tidak memiliki gangguan apa pun, dengan sendirinya ia bisa menghafal angka. Meski demikian bukan berarti orangtua tidak perlu memberikan stimulasi sama sekali pada anak. Stimulasi diberikan dengan cara-cara yang menyenangkan sehingga anak bisa mengenal bilangan dan angka di usia batita. (Lihat boks: 5 Permainan yang Menyenangkan.) Hindari cara-cara yang memaksa karena akan membuat anak menolak dan menghindari pembelajaran selanjutnya. Jangan lupa beri dukungan untuk setiap kemampuan yang dikuasainya.

Marfuah Panji Astuti. Foto: Iman & Ferdi Dok. nakita

Narasumber:
Sani B. Hermawan, Psi.,
Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani.

5 PERMAINAN YANG MENYENANGKAN

Untuk memudahkan orangtua mengenalkan angka pada anak, berikut 5 permainan menyenangkan yang bisa digunakan:

1. Sate bola

Bahan yang dibutuhkan:

Sterofoam berbentuk bulat yang dicat dengan warna berbeda-beda dan dilubangi tengahnya, sumpit bekas yang ujungnya tumpul.

Cara bermain:

Ajari anak membuat sate bola sambil menghitungnya saat menusukkan bola sterofoam. "Ayo kita membuat sate, satu... dua... tiga... empat....," lakukan terus sampai bola-bola habis. "Yuk, sekarang kita hitung, ada berapa sate yang dimiliki Adek?" Latihan ini sekaligus bermanfaat untuk melatih motorik halus anak.

2. Menggantung jepit jemuran

Bahan yang dibutuhkan:

Jepit jemuran, tali kira-kira sepanjang 1 meter.

Cara bermain:

Bentangkan, misalnya diikatkan pada dua sandaran kursi. Minta anak untuk menjepitkan jepit jemuran di bentangan tali sambil menghitung 1-10. Permainan ini sekaligus bermanfaat untuk latihan motorik halusnya.

3. Menjaring benda di ember

Bahan yang dibutuhkan:

Ember besar diisi air, aneka mainan yang kedap air, saringan yang agak besar.

Cara bermain:

Isi ember dengan air, masukkan aneka mainan. Dengan menggunakan saringan minta anak "menjaring" mainannya sambil berhitung. "Satu...dua...tiga...empat..." Permainan ini bisa dilakukan di halaman atau di kamar mandi saat mandi.

4. Menyortir benda besar-kecil

Bahan yang dibutuhkan:

Aneka mainan dalam berbagai ukuran, boks mainan.

Cara bermain:

Minta anak menyortir mainannya berdasarkan ukuran. Yang besar dikelompokkan dengan yang besar, yang kecil dikelompokkan dengan yang kecil. Kemudian minta padanya untuk menghitung berapa jumlah mainan yang besar dan berapa jumlah mainan yang kecil. Penyortiran juga bisa dilakukan berdasarkan warna/bentuk/bahan dan sebagainya. Aktivitas ini bisa dilakukan sekaligus untuk membereskan mainannya setelah selesai digunakan.

5. Lagu-lagu yang menyenangkan

Bahan yang dibutuhkan:

CD/kaset yang syairnya berisi pengenalan angka.

Cara bermain:

Setelkan CD/kaset ini untuk menemani aktivitas bermain anak, bangun tidur atau di dalam mobil saat bepergian. Melalui lagu lebih mudah bagi anak untuk menghafal angka.

MENGENAL ANGKA DALAM BAHASA ASING

Boleh-boleh saja orangtua mengenalkan angka dalam bahasa asing pada batita, tapi lakukan "satu set-satu set". Maksudnya kenalkan anak pada angka 1-10 dalam bahasa ibu. Di lain waktu, kenalkan dalam bahasa lainnya. Yang penting jangan mencampurnya karena hasilnya anak akan meniru tata bahasa yang kacau. Misal, menyuruh anak mengambil sesuatu, "Adek kok ambil apelnya tiga, tadi kan Mama minta one. Only one."

"


Read more...

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda