Jumat, 23 Agustus 2013

AJAK ANAK COWOK GEMARI BUKU

Sebagian anak laki-laki jarang membaca buku karena stereotip yang dipegang teguh orangtua bahwa anak laki-laki harus aktif bergerak.

Lisa Bloom, penulis buku tentang pengasuhan, pernah menganjurkan kita agar mengurangi kebiasaan memuji anak perempuan dengan kata-kata "cantik". Ini demi mendorong mereka agar tidak selalu memberi perhatian pada penampilan fisiknya, tetapi juga kepintaran. Lalu, bagaimana jika orangtua berhadapan dengan anak laki-laki?

Tentu, dalam keseharian kita kerap bertemu anak laki-laki di usia 10 sampai 15 tahun yang aktif. Mereka menyukai aneka olahraga atau bermain game di internet. Jarang sekali kita menemukan mereka sedang memegang buku atau membaca majalah anak-anak.

Suatu kali Lisa juga pernah mengalaminya saat dia bertemu bocah Oliver yang berusia 12 tahun. Oliver sangat mahir bermain skateboard dan menari. Tetapi Lisa tidak buru-buru memujinya. Lisa lalu bertanya mengenai buku favoritnya. Oliver menjawab tidak tahu dan memandang jauh. Dia membaca hanya bila perlu saja. Bila malam tiba, dia akan lebih sibuk dengan gadget dari pada buku. "Saya baca buku kalau tidak ada kegiatan lain, tidak bisa main game, atau kumpul bareng teman," jawab Oliver lugas.

Apakah anak laki-laki melihat aktifitas membaca lebih feminin? Lisa pernah melakukan wawancara pada sejumlah anak dan mendapati sebagian dari mereka berpendapat demikian. Sementara, orangtua juga kerap mendorong anak perempuan untuk membaca, dan tidak demikian pada anak laki-laki.

Keadaan tersebut makain diperparah dengan adanya stereotip budaya yang beranggapan bahwa anak laki-laki lebih baik berolahraga dan menyukai aktivitas luar rumah. Oliver pun berpikir demikian. kata dia, saat membaca, seorang anak akan duduk dengan amanis. Perempuan bisa saja begitu, tetapi anak laki-laki lebih baik bergerak, melakukan sesuatu.

Tak mengherankan kemudian kalau perempuan lebih cepat matang dan dewasa lebih cepat dibanding anak laki-laki ketika beranjak dewasa. Namun, bukankah membaca buku mestinya tidak dibatasi oleh karena dia perempuan atau laki-laki?

Anak laki-laki hari ini mestinya tidak hanya jago basket atau game, tapi juga gemar membaca buku. Sayangnya bila kita melihat lagi ke dalam rumah atau keluarga, peran ayah dan ibu pun sebenarnya sudah membuat stereotip betapa anak laki-laki tidak perlu menyukai buku. Misalkan saat membaca dongeng sebelum tidur. Ibulah yang berperan, sementara ayah mengajak anak laki-laki bermain bola.

Sementara di sekolah, guru perempuan mengajari bahasa dan membaca buku, sementara guru pria umumnya menjadi guru olah raga. Buku anak-anak kerap menggambarkan, kalau yang perempuan memegang buku, anak laki-laki lebih banyak beraktivitas.

Saat anak berulang tahun, kita kerap memberi hadiah buku pada anak perempuan, dan atau gadget buat anak laki-laki. Ini semua sudah memberi pesan yang kemudian diterima dan dianggap lumrah. Anak perempuan membaca sementara anak laki-laki tidak.

Semua hal diatas membuat anak laki-laki berjarak dengan buku. Sementara diketahui sebagian besar dari mereka kemudian ada yang putus sekolah, atau sama sekali tidak mau membaca. Perkembangan teknologi juga membuat akses hiburan lebih mudah dan makin membuat mereka jauh dari buku.

sumber : TRIBUN BATAM (22 AGUSTUS 2013)

0 comments:

Posting Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda