Minggu, 18 Januari 2015

BERPRASANGKA BAIK KEPADA ANAK



Semua anak memiliki potensi kebaikan. Yang baru bisa berkembang jika memperoleh kepercayaan.

Energy dahsyat

Kepercayaan merupakan salah satu bentuk pengakuan dari satu pihak kepada pihak yang lain. Secara alamiah seseorang yang dipercaya akan berusaha menjaga kepercayaan tersebut dengan sungguh-sungguh. Perasaan seperti itu bukan hanya monopoli orang dewasa, anak-anak pun mempunyai perasaan yang sama.
Prasangka, merupakan salah satu menifestasi kepercayaan prasangka biak menunjukkan adanya kepercayaan, sebaliknya prasangka buruk menunjukkan ketiadaan kepercayaan. Prasangka baik akan menumbuhkan energi untuk menjaga kepercayaan tersebut, sebaliknya prasangka buruk akan menimbulkan perasaan benci, terhina, dan keinginan untuk berbuat negative seperti yang diprasangkakan itu.

Berprasangka baik kepada anak

Berprasangka baik kepada anak yang berperilaku baik, merupakan pekerjaan mudah. Akan tetapi membangun prasangka baik terhadap anak yang bertingkah buruk, bagaimana memulainya? Keragu-raguan seperti inilah yang membuat ibu sulit untuk berprasangka baik kepada anaknya, sebab si anak aktif itu memang sudah sering membuat masalah di mana saja dan kapan pun juga.
Untuk menghilangkan keragu-raguan ini, orang dewasa sebaiknya mengadakan feedback, meninjau ulang tentang hal-hal yang berkaitan dengan terbentuknya kepribadian anak.

PERTAMA
Hendaknya diyakini bahwa pada awalnya semua anak terlahir dalam fitrah yang bersih seperti kertas putih. Orang tualah yang paling banyak berperan mengarahkannya, menjadi anak yang berkepribadian baik atau buruk.

KEDUA
Banyak factor luar seperti teman, guru dan lingkungan rumah yang turut memberikan pengaruh pembentukan kepribadian anak tersebut.

KETIGA
Metode pendidikan yang diterima anak tidak kalah besar pengaruhnya. Pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, guru di sekolah, bahkan kakek nenek serta saudara yang lain pun turut member andil yang tidak kecil dalam pembentukan kepribadian anak.

KEEMPAT
Di luar factor-faktor diatas, masih banyak factor lagi yang bersifat kondisional, yang menyebabkan anak Nampak tak sempurna di mata orang tua.
Diluar keempat factor diatas, yang perlu disadari bahwa setiap anak yang lahir membawa egosentrisme, yang selalu mendorongnya memilih setiap yang menyenangkan dirinya sendiri. Fitrah anak-anak adalah semaunya sendiri, tidak peduli kepada orang lain. Adalah tugas orang tua dan guru untuk menghapus sisi negatifnya, karena anak-anak tidak mampu menghilangkannya sendiri. Jika usaha orang tua belum berhasil janganlah kesalahan itu ditimpakan kepada anak-anak.
Masalah ini menjadi penting diketahui, sebab seburuk apapun perangai, sikap, perilaku, dan kepribadian anak, sesungguhnya bukan mutlak kesalahan anak itu sendiri. Banyak factor eksternal yang ikut membentuk kepribadiannya, di samping factor bawaan sejak lahir. Karenanya, tidak ada alasan bagi orang tua untuk ragu-ragu member keperca;yaan kepada anak-anaknya. Apalagi kepribadian mereka sesungguhnya masih dalam proses pembentukan, maka inilah kesempatan yang baik untuk member kepercayaan kepada anak, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.
Sumber : buku Mendidik dengan Cinta (Irawati Istadi)

1 comments:

Winarno ST mengatakan...

Bagaimana kita bisa mengharapkan anak memiliki rasa percaya diri yang besar jika kita tidak memberikan rasa percaya kita kepadanya.

Posting Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda