Jumat, 05 Maret 2010

ISTRIKU, MAAFKAN SUAMIMU

Permintaan maaf adlah kata yang selayaknya sering diucapkan untuk melanggengkan hubungan suami istri, sehingga bahtera rumah tangga berhasil mencapai tujuan. “Duhai saying, maafkan ayah…Aku ridak bermaksud demikian…Adalah ungkapan-ungkapan yang sering kita gunakan tetapi memiliki satu makna, yaitu meminta maaf.

Sesungguhnya suami istri secara bersama-sama memiliki saham dalam keberhasilan dan kebahagiaan keluarganya, lalu kenapa salah seorang diantara mereka berdua memunculkan kalimat ‘kebencian’ pada saat muncul masalah.

Andai salah seorang dari mereka berdua berbuat salah, lalu ia meminta maaf kepada pasangannya, apakah hal ini akan menghinakan dirinya? Jika sepertiitu sikap suami istri, tentulah kehidupan mereka akan mengalmi satu dari dua hal mungkin akan lenggeng rumah tangganya tetapi kurang harmonis dan banyak perselisihan, dan mungkin juga akan berujung kepada hancurnya kehidupan suami istri, cerai misalnya.
Kehidupan suami istri itu ibarat sebuah kapal yang sedang berlayar, padanya ada nakoda dan awak kapal. Semua yang ada di dalam kapal itu bahu membahu berusaha menyelamatkan kapal yang mereka tumpangi pada saat kapal ditimpa badai agar semuanya salamt dan sampai ke ‘pulau idaman’.

Demikian juga halnya suami, Allah swg menjadikannya sebagai pemimpin bahtera rumah tangga, pelindung dan pengayom bagi keluarga. Kepemimpinan yang diembannya itu adalah tugas bukan intimidasi atas kesewenang-wenangan.

Suami yang baik adalah yang memahami kebutuhan dan perasaan istrinya, dan menjadikan tampuk kepemimpinannya penuh dengan kasih saying,m kesejukan dan kedewasaan, tidak mudah emosi, namun tetap tegas pada saat harus bersikap tegas.

Akan tetapi sebagian suami yang meremehkan tugas ini memahami bahwa, meminta maaf kepada istri akan menghinakan dirinya sebagai laki-laki, bahkan ia berpendirian bahwa kemuliaannya tidak membolehkan dirinya untuk mengucapkan kalimat, ‘istriku, maafkan aku, aku salah’ kepada istrinya, bagaimanapun keadaannya.

Maka, keegoannya terus ia pertahankan dan istri selalu diposisikan ‘bersalah’, ia tidak pernah meminta maaf kepadanya, yang kemudian menyeretnya kepada kehancuran rumah tangga dan kalimat mungkin rumah tangga itu bisa dilanggengkan dengan ucapan ‘maafkan suamimu, sayang’.

Ketika ‘gengsi’ intervensi

Seorang istri pernah menceritakan tentang pengalamannya. Dulu, kehidupan kami demikian bahagia. Akan tetapi kini semuanya telah berubah, seiring terjadi percekcokan.
Kami sering berdebat soal tempat tinggal, aku menghendaki pindah dari perumahan mertua indah sementara suamiku bersikukuh untuk tetap dirumah orang tuanya, dengan bebagai alasan.
Puncaknya, adalah ketika aku memutuskan untuk ‘nekad’ keluar rumah pergi ke orang tuaku dan aku katakana, jangan menjenguk atau menjemputku sebelum engkau punya rumah sendiri. Aku dan suamiku bersikukuh dengan pendirian masing-masing.
Akhirnya aku menyadari kesalahanku ‘keluar’ rumah tanpa seizing suami. Suamiku sulit sekali mamaafkan aku dan tidak berusaha untuk meredakan suasana. Malah ia mengatakan, ‘bertobatlah kepada Allah swt, dan kembalilah ke rumah ini, jika kamu tidak mau tobat, maka cukup bagiku untuk menceraikanmu.
Bahkan diantara mereka ada yang sampai tidak mau mengasihi dan menyayangi istrinya, walaupun hanya dengan seuntai kata yang dicintai istrinyaapalagi sampai mau memaafkan istrinya tersebut.
Seorang istri menuturkan, para suamikita sangat disayangkan ksekali, merasa sangat mudah mengungkapkan kata-katanya kepada kita, kecuali ‘ungkapan maaf’ bagaimanapun keadaannya.
Suamiku sangat temperamental, tabiatnya keras dalam mempergauliku. Ia selalu mengucapkan ungkapan-ungkapan kasar kepadaku, bahkan ia pun pernah memukuliku. Dan aku tetap bersabar sekalipun akau dalam posisi yang benar.
Suamiku tidak mau mengubah pendiriannya, sampai akhirnya aku yang meminta maaf kepadanya. Denganberlalunya waktu, sikap suamiku bertambah jelek, hingga memupus kesabaranku. Akhirnya kamipun cerai, suatu hal yang tidak ingin kami lakukan.
Sedangkan kisah yang lain, Abu Khalid begitulah ia kerap dipanggil. Habis sudah kehidupan bersama istriku, pada hal aku mencintainya akan tetapi dengan sebab ketidakharmonisan, dan aku enggan meminta maaf kepadanya, hingga akhirnya aku menelantarkan anak-anakku hidup tanpa seorang ibu.
Sebenarnya masalah yang kami hadapi sederhana saja, aku meminta istriku untuk konsentrasi mmengurus anak-anakku dan berhenti bekerja. Sampai suatu ketika terjadi pertengkaran, aku mengucapkan kata-kata yang aku sendiri tidak sadar mengucapkannya. Akhirnya istriku pun pergi kerumah orangtuanya.
Pada hal peluang kamu untuk ‘bersatu’ kembali sangat terbuka lebar, hanya gara-gara aku gengsi meminta maaf, akhirnya perceraian pun tidak dapat kami tolak.

Jantan Man…!

Sseorang guru besar dari Universitas Malik Su’ud Dr. Muhammad Musthafa mengatakan, maaf merupakan sifat jantan dari seorang suamu ataupun siapapun yang berbuat salah. Meminta maaf bukan sifat yang dimiliki oleh orang yang lemah sebagaimana persangkaan sebagian orang.
Semua orang pernah berbuat salah, namun sedikit orang yang jantan meminta maaf dari kesalahannya kepada orang lain. Apalagi jika yang diminta maaf itu adalah istrinya. Sebab setiap suami berbeda-beda cara dan tabiatnya. Sebagian maaf dengan cara tidak langsung akan tetapi mencapai tujuan dan sebagian menhindar dari masalah yang ia alami karena demi masa depan dan kejiwaan anak-anaknya yang akan hancur bila berpisah.
Ada sebagian berlebih-lebihan, ia menolak meminta maaf karena gengsi dan egois, pada hal meminta maaf bukanlah hal yang jelek. Meminta maaf adalah sesuatu yang mesti dilakukan bagi orang yang bersalah.
Orang yang bersikukuh menolak meminta maaf kepada pasangannya dengan alasan akan mengurangi kehormatannya, maka orang yang demikian terkena penyakit jiwa. Sebab, diantara sifat kemuliaan adalah meminta maad ketika berbuat salah kepada orang lain.

Ada apa dengan suami

Sifat kejantanan mengarahkan seseorang untuk meminta maaf jika berbuat salah kepada istrinya atau kepada orang lain. Sebab, jantan berarti jujur dan luhurnya budi pekerti. Disaat suami minta maaf, maka ia tidak jauh harga dirinya di mata istrinya. Bahkan itu aka mengangkat kedudukannya di mata istrinya.
Meminta maaf bukan merupakan klemahan bahkan kelmahan itu sendiri adalah seseorang menyembunyikan kesalahannya dan berlindung dibalik ‘harga diri’.
Banyak problem suami istri diawali dengan adanya kesombongan sang suami dan enggan meminta maaf kepada istrinya ketika ia bersalah. Sudah semestinya para suami ingat, bahwa dengan ia meminta maaf atas kesalahan kepada istrinya, akan bisa mengembalikan ‘air’ ke dalam alirannya, mengembalikan perasaan romantis, merekahnya kecintaan diantara ‘sepasang sejoli’ walaupun sifat kelakian merasa enggan untuk itu.
Minta maaflah kepada istimu atas kesalahanmu dan kelalaian, duhai para suami! Ummi/agust2004



0 comments:

Poskan Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda