Sabtu, 01 Agustus 2009

SEPATU SEHAT UNTUK SI KECIL

Warna ceria dan desain bagus tak cukup. Ada sederet kriteria lain agar kaki mungil si kecil tetap sehat dengan sepatu barunya.
Sejak anak mulai berjalan, kakilah yang selalu menanggung beban terberat sepanjang hidupnya. Masalahnya, kadangkala Anda “menelantarkan” kakinya dengan memakaikan sepatu yang tak cocok. Apa yang perlu diperhatikan?
Saatnya harus tepat

Biasanya, bayi sudah mulai memerlukan sepatu sebelum ia bisa menapak lantai. Nah, sepatu semacam ini lebih berfungsi sebagai kaus kaki yang menghangatkan kaki serta aksesoris untuk mempercantik kaki ketika bepergian. Jadi, bahannya harus nyaman dan lembut. Juga, tidak boleh pas-pasan agar tidak menghambat pertumbuhan kakinya.
Sebenarnya, sepatu baru benar-benar dibutuhkan ketika si kecil belajar berjalan. Kalaupun ia sudah mulai belajar berjalan sendiri, tunggu dulu selama 6–8 minggu. Setelah “mantap” berjalan, barulah Anda boleh memakaikan sepatu. Kenapa begitu?
Sepatu berguna untuk melindungi kaki dari benda tajam, kotor, dan sebagainya. Namun, jika si kecil berjalan di dalam rumah yang bersih dan aman, biarkan saja ia berjalan tanpa alas kaki. Dengan bertelanjang kaki, ia belajar untuk mengenali benda yang disentuh kakinya. Misalnya, lantai yang dingin, kasar, licin, dan sebagainya.

Ukuran musti pas!
Ini berarti, sepatunya tidak boleh terlalu sesak, namun juga tidak terlalu longgar. Pasalnya, tulang kaki anak belum terbentuk sempurna sampai usia 6 tahun. Tulangnya masih muda dan lunak. Otot-otot dan jaringan ikat di kaki juga mudah “memuai”. Sepatu yang kekecilan dapat merusak pertumbuhan kakinya.
Sebaliknya, sepatu yang kebesaran juga tidak oke. Biasanya, Anda cenderung membeli sepatu yang ukurannya lebih besar dengan harapan waktu pakainya bisa lebih lama. Padahal, ketika si kecil berjalan, bagian belakang sepatu akan menggesek-gesek tumit kakinya. Akibatnya? Bukan saja proses berjalannya jadi terhambat, kulit kaki pun lecet.
Apa jalan ke luarnya? Ketika sedang mencoba-coba sepatu, tekan ujung depan sepatu anak. Ini cara mudah untuk mengetahui apakah ada sisa ruang di depan jarinya. Sebaiknya, jarak antara sepatu dengan ujung jari kaki terpanjang sekitar 2 cm. Atau, minta anak menggerakkan ujung jarinya. Jika ujung jarinya masih bisa digerakkan, maka sepatu pilihan sudah benar.
Sebagai catatan, jangan percaya begitu saja pada nomor sepatu anak. Karena, setiap pabrik punya standar ukuran sepatu yang beda-beda. Jika si kecil tidak ikut pergi, ukur panjang dan lebar kakinya, atau buat pola gambar kakinya dengan cara menjiplaknya pada secarik kertas.

Trik memilih sepatu

Apa saja yang perlu diperhatikan saat memberli sepatu anak?
Sol empuk dan bertekstur. Dengan begitu, ia tidak mudah terpeleset.
Penyangga telapak kaki empuk dan melengkung. Bagian melengkung di telapak kakinya jadi tersangga dengan baik. Untuk itu, tekan bantalan yang menyangga telapak kaki dengan jari.
Lentur, sehingga kakinya jadi lebih fleksibel saat berjalan. Untuk mengecek kelenturannya, tekuk saja sepatu itu.
Bahan kuat biar bisa melindungi kakinya
Ringan, agar langkahnya tidak terhambat.
Tak mudah lepas. Sebaiknya sepatu anak memakai tali, gesper atau velcro (perekat).
Jangan lupa kaus kaki.

Kapan Ganti Sepatu?
Pertumbuhan kaki anak memang sangat cepat. Agar pertumbuhannya tidak terhambat, sering-sering ukur kakinya. Idealnya, 3 kali setahun beli sepatu baru. Jangan tunggu sampai ujung jari anak tertekuk gara-gara sepatunya kekecilan!
Juga, segera ganti sepatu si kecil kalau kakinya lecet, ia menolak dipakaikan sepatu, serta susah melangkah. Yang pasti, jangan berikan sepatu bekas pada adik, karena sudah “tercetak” kaki pemilik awalnya, yakni sang kakak. Kalau dipaksakan juga, pertumbuhan kakinya bisa terganggu.

Agar Tidak Salah Ukur...
Mengukur sepatu sebaiknya dilakukan setelah si kecil beraktivitas selama 2-3 jam. Kok begitu? Kalau kakinya sudah agak “memuai”, tingkat keakuratan pengukuran sepatu bisa lebih tinggi.


0 comments:

Posting Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda