Kamis, 29 November 2012

IKAN ASIN BERFORMALIN



Dibalik kegurihan dan kesegaran ikan asin, bisa-bisa ada zat berbahaya formalin yang terkandung di dalamnya. Dari penelusuran baru-baru ini, beberapa produsen ikan asin nakal mencampuri formalin kedalam  ikan itu dengan berbagai macam alasan.

Sekitar tiga tahun yang lalu kita dikagetkan dengan isu tahu berformalin. Setelah ditelusuri Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), ternyata tidak hanya tahu dan tempe yang mengandung formalin, baso pun demikian. Formalin memang bukan barang baru yang dipakai oleh produsen nakal untuk  mengawetkan makanan. Zat untuk mengawetkan mayat ini sudah dikenal di kalangan pedagang sejak tahun 1980-an.


Dari penelitian Harian Kompas dan Sucofindo akhir tahun 2005 tentang ikan asin berformalin, ditemukan kesimpulan sebagai berikut : sampel ikan asin dari Pasar Jati Negara, Jakarta Timur, memiliki akndungan formalin 2,36 mg kg. sampel ikan asin dari Pasa Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dipastikan mengadung formalin 29,02 mg kg. sampel ikan asin dari Pasar Keramat Jati, mengandung formalin dengan kadar 48,47 mg kg. bahkan, sampel ikan asin yang diambil dari Pasar Palmerah, Jakarta Barat, ternyata memiliki kadar formalin tinggi, 107,98 mg kg. tidak ketinggalan, ikan asin yang beredar di pasar modern, termasuk  hypermarket, ternyata juga menunjukkan kandungan formalin 51 mg/kg. 

Sebelumnya banyak orang menduga penggunaan formalin sudah tidak ada lagi, ternyata dugaa itu salah. Masih ada beberapa pengasin (istilah untuk produsen ikan asin) memakai formalin untuk mempercepat pengasinan itu.

FORMALIN 

Bertolak dari keingintahuan itulah, maka ditelusuri lagi salah satu tempat pengasinan ikan di Jakarta. Aktivitas di tempat itu banyak terjadi pada malam hari, mulali dari datangnya ikan dari perahu-perahun besar hingga pelelangan. Setibanya di tempat itu, kita dibuat kesulitan mendapatkan informasi mengenai oknum yang melakukan pengasinan ikan dengan formalin. Semua orang tutup mulut dan tidak mau bercerita. Secara tidak sengaja, ada seorang pengasin mau memberikan informasi. Kita sebut saja namanya Huro lelaki yang sudah 20 tahun menjadi pengasin ikan ini mau berbagi cerita.  Awalnya ia mengaku tidak tahu menahu mengenai formalin. Namun Huro akhirnya mencoba menggunakan formalin empat tahun yang lalu melalui sorang teman. “Kata teman saya, kalau ditambahkan formalin, ikan akan lebih awet,” terangnya.

Terlebih jika musim hujan tiba, para pengasin biasanya bingung mengeringkan ikan asin. Dalam kondisi seperti itu, formalin bisa diandalkan. “Jadi tidak usah menunggu matahari, “ Kata Huro.
Ia menceritakan pengalamannya saat musin penghujan. Huro harus mengeringkan lebih dari 200 kilogram ikan. Pagi sekali ia sudah menjemur ikan-ikan itu di dekat rumah.

Tiba-tiba hujan lebat, padahal jam dinding baru menunjukkan pukul 10.00 WIB. Ia tergopoh-gopoh menutupi ikan asin itu dengan plastic besar. Walau tak basah semua, ikan itu baru bisa dijual satu minggu kemudian karena lembap. Padahal jika matahari bersahabat, Huro hanya butuh waktu dua hari untuk mengeringkan ikan-ikan itu.
Dari segi bisnis, semakin cepat ikan itu kering, tentu semakin cepat pula Huro mendapatkan untung.

KANKER NASOFARING

Penggunaan formalin pada makanan jelas berbahaya. Menurut dokter  Alyya sidiqqa, formalin dengan kadar melebihi 14 mg yang dikonsumsi setiap hari bisa menimbulkan nyeri perut, muntah, diare, hipotensi, koma, hingga gagal ginjal akut. Sesuai keputusan Food And Drug Administration (FDA) atau lebih dikenal dengan BPOM international, formalin tidak boleh digunakan untu mengawetkan makanan. “Hanya boleh digunakan untuk anti bakteri saja.” Jelas Alyya.

Ia yakin masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari formalin atau mungkin banyak yang sudah pernah mengonsumsi formalin. Alyya mengajak para ibu untuk tidak khawatir dan ketakutan. Pasalnya, jika kadar yang masuk ke dalam tubuh 1,5 mg hingga 14 mg per hari, formalin ini tidak membahayakan kita.
Formaldehid (zat yang terkandung dalam formalin) yang kita konsumsi tidak akan mengendap di dalam lemak di tubuh kita. Ini artinya kita boleh lega, karena resiko penyakit semakin sedikit. Lalu ke mana perginya? Formaldehid itu masuk melalu saluran cerna (makanan dan minuman) lalu diserap melalui jaringan tubuh seperti usus, hepar, dan otot. Pada kadar yang rendah sperti yang telah dijelaskan diatas, fomal dehid akan dioksidasi (proses pengolahan di dalam tubuh) menjadi asam format dan beberapa metabolit lainnya. Setelah itu akan dikeluarkan dari tubuh berupa urin.

Tapi bukan berarti ibu tidak perlu waspada dengan formalin. Dari penelitian, formalin bisa mengakibatkan kanker nasofaring (belakang hidung). Pemicunya adalah inhalasi (pernapasan). “Zat fomaldehid yang terhirup itu biasanya berasar dari polusi udara hingga  cat rumah,” lanjutnya. Sedang yang masuk ke tubuh manusia secara oral (mulut) kecil kemungkinan mengakibatkan kanker nasofaring. Kecuali jika orang itu bermasalah pada organ tubuh seperti kelainan hati dan ginjal. Tentu ketahanan tubuhnya akan mudah diserang. “Pada kondisi ini kemungkinan kanker bisa saja.”paparnya.
Hingga kini belum banyak penelitian tentang berap lama seseorang bisa terkena kanker akibat mengonsumsi formalin.
Beberapa pengujian pernah dilakuka pada tikus, hasinya bermacam-macam.

CARA MEMBEDAKAN :

BAGIAN
IKAN TANPA FORMALIN
IKAN BERFORMALIN
Mata
Bola mata menonjol, pupil hitam, cerah mengkilat, kornea selaput mata jernih
Bola mata dan bagian hitamnya tenggelam, kornea keruh, tampak lender kuning yang tebal
Insang
Warna merah cemerlang, bersih tanpa lender, yang berasal dari bakteri. Baunya segar
Warna merah coklat, coklat tua, dan kelabu, tertutup dengan lender tebal
Lendir permukaan kulit
Lapisan lender/transparan mengkilap cerah, tidak ada perubahan
Lendir berwarna kuning sampai coklat dan tebal tidak merata, kecerahan hilang, terlihat warna putih dan lender kering.
Daging dan perut
Sayatan daging cemerlang dan berwarna asli, sekitar tulang belakang tidak merah, perut dan dinding perut utuh, ginjal merah terang, bau segar.
Warna daging jadi pudar, warna merah sepanjang tulang belakang, dinding perut membubur, isi perut hancur (warna tanah)
Tekstur
Padat, kenyal, sulit menyobek dari tulang belakang, kadang-kadang terasa lunak sesui jenis ikan.
Daging sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang, mudah disobek dari tulang belakang.
Bau
Segar, bau laut
Bau busuk, logam, kentang rebus, asam, susu kental, rumput, sabun.

Sumber : DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN


SUMBER : SEKAR

1 comments:

cara mengobati asam urat mengatakan...

salam kenal sebelumnya,, jjur saja saya sneng sekali dengan ikan asin, untuk itu mhon infonya cara membedakan ikan asin yang berformalin itu bisa di lihat dari apanya ?

Posting Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda