Sabtu, 13 Februari 2010

BENARKAH ROKOK ITU CANDU?

Mengapa para perokok susah menghentikan kebiasaannya?
Benarkah itu merupakan bentuk kecanduan?

Merokok telah menyebabkan sekitar 440 ribu warga AS kehilangan nyawa tiap tahunnya (jumlah ini lebih besar ketimbang kematian yang disebabkan oleh gabungan alcohol, kokain, heroin, pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan lalu lintas, kebakaran dan AIDS). Namun, tetap saja itu tidak membuat para perokok jera.

Bagaimana di Indonesia? Berdasarkan survey yang dilakukan oleh WHO pada tahun 2001, Indonesia adalah Negara dengan jumlah perokok 69% dari seluruh populasi. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai Negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia!

Nikotin, itu jawabannya!

Kita tahu bahwa bahan pokok rokok adalah tembakau. Dan benar, kebanyakan perokok terus-menerus menghisap tembakau sebab mereka kecanduan nikotin. Kecanduan dapat dicirikan denganadanya dorongan kuat untuk mencari dan menggunakan obat meski menyadari efek buruk bagi kesehatannya.

Penelitian menunjukkan bagaimana nikotin bekerja dalam otak untuk menhasilkan berbagai macam pengaruh. Pengaruh terpenting dari sifat candunya itu adalah nikotin menggiatkan ‘celah panghargaan’ (reward lpathways)-system sirkuit otak yang terlibat dalam menghantarkan keinginan untuk mengonsumsi rokok (karena bisa menyebabkan rasa senang, red) adalah yang dikenal dengan dopamin. Penelitian menemukan bahwa nikotin menaikkan tingkat dopamin dalam ‘sirkuit penghargaan’. Reakso semacam itu serupa dengan yang dianggap mendasari munculnya sensasi nikmat ketika merokok.

Sifat-sifat farmatikokinetik nikotin juga meningkatkan potensi penyalahgunaannya. Merokok menghasilkan suatu penyebaran nikotin yang cepat ke dalam otak dan mencapai puncaknya selama 10 detik setelah dihisap. Namun, efek yang ditimbulkan nikotin hilang dalam waktu beberapa menit, sebagaimana perasaan nikmat yang timbul sehingga menyebabkan para perokok terus-menerus merokok, untuk mempertahankan efek nikmat tersebut.

Gejala-gejala kecanduan yang terjadi jika seseorang berhenti merokok meliputi mudah tersinggung, kecanduan, kesadaran dan perhatian menurun, gangguan tidur dan cepat lapar. Gejala-gejala ini bisa terjadi setelah beberapa jam seseorang berhenti merokok, sehingga inilah yang menyebabkan seseorang kembali meroko dalam waktu singkat. Gejala- gejala ini mencapai puncaknya pada hari-hari awal ketika berhenti merokok dan mungkin mereda dalam beberapa minggu. Namun bagi sebagian orang gejala-gejala itu akan tetap bertahan selama berbulan-bulan.

Jika kecanduan rokok terkait dengan efek farmakologis nikotin, banyak faktor terkait dengan perilaku yang dapat memperparah sebagian orang, rasa bau dan bentuk rokok serta cara mengeluarkan, memgang, menyalakan, dan menghisap rokok, semua itu terkait dengan sensasi nikmat merokok, sehingga mempersulit untuk berhenti merokok dan semakin mendorong kecanduan.

Tak hanya nikotin

Penelitian menunujukkan bahwa dikotin bukan satu-satunya bahan psikoaktif dalam tembakau. Menggunakan teknologi neuroimaging yang lebih maju, para ilmuwan dapat melihat efek dramatis merokok pada otak dan menemukan suatu bekas penurunan tingkat monoamine oksidase (MAO), MAO merupakan enzim penting yang bertaggung jawab menghambat dopamine. Perubahan ini bukan disebabkan nikotin tetapi beberapa bajan lain yang terdapat dalam rokok. Penurunan 2 bentuk MAO ini (A danB) menyebabkan tingkat dopamine lebih tinggi dan bisa jadi menjadi alasan kenapa para perokok tak bisa menghentikan kebiasaanya-untuk menopang tingginya tingkat dopamine sehingga mendorong konsumsi rokok yang berulang-ulang.

Para peneliti melakukan percobaan pada hewan dan menemukan bahwa asetaldehid (unsure pokok lain dalam tembakau), secara dramatic meningkatkan kekuatan bahan-bahan penyusun nikotin dan bisa jadi juga ikut andil dalam proses kecanduan rokok. Lebih jauh, laporan para peneliti tersebut menyebutkan bahwa efek penguatan ini. Hal ini mengesankan bahwa otak pada usia remaja mungkin lebih rentan terhadap candu rokok.

Cara efektif berhenti merokok

Beberapa perokok dapat berhenti dengan sendirinya, namun yang lain butuh bantuan. Bantuan ini sangat penting, sebab bila seseorang berhenti merokok, maka kesehatannya akan mengalami perbaikan dengan segera. Contohnya, sehari setelah berhenti merokok, dapat menurunkan tekanan darah dan kemungkinan serangan jantung. Adapun keuntungan jangka panjang meliputi penurunan kemungkinan terserang stroke, kanker paru-paru dan kanker lainnya. Berikut ini beberapa cara yang lazim digunakan agar bisa berhenti merokok:

  • Penggantian nikotin. Terapi penggantian nikotin biasa dilakukan dalam bentuk permen, plester, dan semprot hidung. Prinsip kerjanya memberikan nikotin dalam dosisi kecil secara bertahap sehingga mengurangi gejalan kecanduan yang dialami pasien.


  • Obat-obatan. Pada awalnya, digunakan semacam obat anti depresi. Sedangkan obat terbaru yang akan segera beredar, prinsip kerjanya adalah menghalangi munculnya dopamine sehingga para perokok setelah minum obat ini. Ada lagi yang sedang dikembangkan, penggunaan vaksin nikotin. Ide dasarnya sama dengan vaksin lainnya, berusaha memicu dan meningkatkan anti bodi yang akan menutup jalan masuk nikotin ke otak dan mencegah efek penguatan nikotin di otak. Namun, tentu saja vaksin inil perlu dikaji kandungan-kandungannya (halal/haram).


  • Terapi perilaku. Terapi perilaku biasanya dilakukan dengan cara memberi informasi pada perokok tentang bahaya rokok, manajemen stress, meningkatkan kemampuan mengatasi masalah, dan juga peningkatan peran masyarakar. Terapi ini disesuaikan dengan kondisi perokok agar lebih besar tingkat keberhasilannya. Sebagai seorang muslim, sebenarnya ada cara yang seharusnya bisa membuat kebiasaan buruk ini segera berhenti. Ya, dengan mengetahui bahwa rokok itu haram, seorang muslim tak ada pilihan lain kecuali meninggalkan candu yang berbentuk sokok ini.
(www.drugabuse.gov)




0 comments:

Posting Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda