Senin, 01 Februari 2010

PERAWATAN BAYI PERUBAHAN PASCA MELAHIRKAN

Secara psikologi, setelah melahirkan seorang ibu akan merasakan gejala-gejala psikiatrik. Demikian juga pada masa mnyusui. Meskipun demikian, ada pula ibu yang tidak mengalami hal ini. Agar perubahan psikologi yang dialami atidak berlebihan, ibu perlu mengetahui tentang hal ini lebih dahulu.

Beberapa kalangan berpendapat, dalam pecan pertama setelah melahirkan, banyak wanita menunjukkan gejala-gejala psikiatrik, terutama gejala depresi, dari ringan sampai berat serta gejala-gejala meurosis traumatic.
Beberapa faktor yang menyebabkan diantaranya, ketakutan yang berlebihan dalam masa hamil, struktur perirangan yang tidak normal sebelumnya, riwayat psikiatrik abnormal, riwayat kandungan abnormal, riwayat kelahiran mati atau kelahiran cacat, dan riwayat penyakit lainnya.

Biasanya, penderita dapat sembuh kembali tanpa atau dengan pengobatan. Meskipun demikian, kadang diperlukan terapi oleh penyakit jiwa. Sering pula, kalainan-kelainan psikiatrik ini berulang setelah persalinan-persalinan berikutnya. Hal yang perlu diperhatikan, yaitu adaptasi psikososial pada masa pasca melahirkan.

Bagi keluarga muda, masa pasca persalinan merupakan ‘awal keluarga baru’ sehingga keluarga perlu beradaptasi dengan peran baru. Tanggung jawab keluarga bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir. Dorongan serta perhatian anggota keluarga lainnya merupakan dukungan positif untuk ibu. Dalam menjalani adaptsi setelah melahirkan ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :

Fase taking in

Fase ini merupakan periode ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu, focus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Parngalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Kelelahannya membuat ibu perlu sukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik. Pada fasi ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra makana untuk proses pemulihannya. Disamping, nafsu makan ibu memang sedang meningkat.

Fase taking hold

Fase ini berlangsung antara 3 – 10 hari setelah melahirkan. Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidak mampuan dean rasa tanggung jawabnya dalam marawat bayi. Selai itu, perasaannya sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu, ibu memrlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.

Fase letting go

Selain faktor-faktor hormonal, dan gizi agar produksi ASI lancer diperlukan pula faktor psikis. Dalam hal ini fungsi lancar
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai mnyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.

Perubahan perasaan

Ada kalanya, ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut baby blues yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga dulit menerima kahadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena semua perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan.
Disini hormone memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapar membuat perbedaan besat dalam kehidupan ibu dan hubunganya dengan suami., orang mana maupun anggota keluarga lain. Perubahan perasaan ini akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tubuh kembali pada keadaan normal.

Gejala depresi

Ada kalany, ibu merasakan kesedihan karena kebebasannya, otonomi, interaksi social dan kemandiriannya berkurang. Hal ini akan mengakibatkan depresi pasca melahirkan (depresi postpartum). Gejala-gejala, adalah: sulit tidur, bahkan ketika bayi sudah tidur, nafsu makan hilang, perasaan tidak berdaya atau kehilangan control, terlalu cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi, tidak menyukai atau takut menyentuh bayi, sedikit atau tidak ada perhatian terhadap penampilan pribadi, dan gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernapas atau perasaan berdebar-debar.
Jika mengalami gejala-gejala tersebut sebaiknya ibu memberitahu suami, bidan, atau dokter mengenai apa yang ibu rasakan. Jika detemukan sejak dini, penyakit ini dapat disembuhkan dengan pbat-obatan dan konsultasi dengan ustadz. Jika depresi yang ibu alami berkepanjangan, mungkin ibu perlumendapat perawatan dirumah sakit.
Selain faktor-faktor hormonal dan giza agar produksi ASI lancer diperlukan poula faktor psikis. Dalam hal ini fungsi otak mempunyai peranan dalam memacu atau mmenghasilkan hormone. Hormone ini mempunyai pengaruh pada kelenjar hipofisis dalam memproduksi Prolaktin (sebagai pellancar AS. Dan oksitosin. (seagai perangsang terjadinua kontraksi rahim.) setelah melahirkan. Dengan demikian keinginan/ kesedihan atau penolakan/ keengganan ibu menyusui bayinya dapat memperlancar atau menghambat produksi ASi.

Sumber : Nabila edisi2 /juni 2004






0 comments:

Posting Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda