Minggu, 14 Februari 2010

DISLEKSIA: ANAK SULIT MEMBACA


Banyak anak yang sulit membaca misal membaca rel manjadi ler, mandi manjadi madin, atau tragis lagi membaca nama gurunya Sanuki menjadi Nasuki.
Anak yang disleksia sulit membedakan kata yang tertulis dengan pengucapan lisannya (verbal). Biasanya mereka juga kesulitan dalam menulis kata-kata. Jadi anak yang menderita disleksia berarti mengalami kesulitan menghubungkan kata atau symbol-simbol tulisan.
Anak yang menderita disleksia akan menggunakan otak bagian kanan untuk lebih jauh, otak bagian kanan untuk membaca dan mengeja. Padahal jika dilihat lebih jauh, otak bagian kanan berbeda fungsi dengan otak bagian kiri.
Otak bagian kiri bisa mencocokkan antara bentuk huruf dalam suatu kata dan lafalnya saat dibaca, menangani informasi yang datang ke otak seperti lafal dari satu huruf dengan huruf yang lain, membedakan satu huruf dengan huruf yang lainnya, dan mengerti tata bahasa dn syntak.
Otak kanan tentu lain dengan otak kiri. Otak kanan tidak bisa mengerti bagaimana membedakan huruf dan mengucapkannya. Otak kanan akan membaca huruf atau kata yang terlihat menjadi bentuk yang berlainan misalnya, jika anak melihat huruf A, otak kiri akan mencatatnya sebagai A. tapi jika oratak kanan yang disuruh mambaca bukan lagi huruf A yang tercatat. Tapi bisa bentuk huruf atau angka lainnya.
Hingga saat ini para ahli belum menemukan penyebab pasti dari disleksia. Dugaan sementara disleksia terjadi karena tiga faktor, yaitu keturunan. Anak disleksia terlahir dari keluarga yang punya riwayat kesulitan membaca atau mengeja. Kedua, karena gangguan pada susunan kromosom terutama kromosom nomor 6 atai 15, terakhir karena faktor otak bagian kiri tidak berfungsi. Pada anak yang normal, saat membaca bagian otak kiri yang akan berfungsi. Tapi anak yang disleksia, otak yang kananlah yang banyak berfungsi. Keadaan ini membuat anak sulit mengeja, menulis, mengingat kata, angka yang akhirnya akan berdampak pada kosa kata dan kemampuan matematikanya.
Pada anak disleksia ada tiga tanda pokok yang perlu diamati:

1. Tidak bisa membedakan huruf. Untuk bisa membaca, seseorang mengenal masing-masing huruf dan bisa merangkaikannya sehingga membentuk kata yang ada artinya. Pada anak disleksia, pemahaman bentuk tidak dikuasai sehingga mereka tidak bisa membedakan huruf yang mempunyai bentuk hampir sama seperti b dengan q, p dengan q dan m dengan w.
2. Salah mengeja. Selain paham bentuk, agar bisa membaca anak perlu tahu urutan mesing-masing huruf. Anak disleksia tidak mempunyai kemampuan mengurutkan huruf sehingga anak selalu salah mengeja. Yang sering, anak akam membaca dengan rangkaian huruf tersebut secara terbalik. Seperti kata ibu yang dibaca atau ditulis ‘ubi’ atau kata mandi yang dibaca atau ditulis ‘madin’.
3. Tidak paham bacaan. Anak dengan kalainan disleksia akan menunjukkan pemahaman yang buruk dalam membaca. Seperti setelah membaca kata ‘apel’ si anak tidak mempu menjelaskan atau menunjukkan apa yang dimaksud dengan ‘apel’ itu. Kesulitanm membaca ini biasanya akan diikuti dengan anak sulit menulis. Dan seringnya, keadaan ini membuat anak sulit berkonsentrasi selama pelajaran berlangsung. Akibatnya, anak lebih banyak bermain dan suka menganggu temannya. Yang paling parah, disleksia ini sering dikaitkan dengan keterbelakangan atau bodoh. Tapi jangan kaget, anak disleksia justru cerdas pada kemampuan yang lain. Seperti kemampuan bersosialisasi, analisa dan kecepatan menyelesaikan masalah. Ini tak mengherankan karena disleksia sendiri tidak disebabkan oleh tingkat kecerdasan anak yang rendah. Hanya jika diukur, kemampuan membaca atau menulis anak disleksia ini level2 dibawah tingkat kecerdasan (IQ) yang dimiliki.
4. Membantu. Tidak ada cara untuk menghindarai jika sejak lahir anak sudah berpeluang menjadi disleksia. Namun dengan seriang mengajak si kecil bermain kata-kata, bagian otak yang semula tak berfungsi bisa berfungsi kembali. Ini juga untuk membantu mengatasi hambatan membaca dikemudian hari. Dan dengan cara yang menyenangkan berikut ini, disleksia bisa dicegah sekaligus diatasi:

• Pengulangan kata. Mengucapkan kata secara berulang meningkatkan sensitivitas anak dalam membedakan suku kata.
• Ajukan pertanyaan. Ketika anda dan si kecil membaca cerita bersama-sama, secara periodic berhentilah membaca dan ajukan pertanyaan. Ini penting bagi anak untuk memahami apa yang sedang anda dan dia baca.
• Latihan membedakan. Karang beberapa kalimat yang bisa melatih anak membedakan kalimat. Seperti melatih anak membedakan kalimat perintah yang sesungguhnya. Coba anda katakana:’ abracadabra, naikkan bola keatas meja!’ Jika si kecil bisa mendengar perbedaan itu, dia akan siap menguraikan kata-kata ketika dia belajar membaca.

Tidak semua

Yang perlu diketahui, tidak semua kesulitan membaca itu disleksia. Pada anak yang masih balita 4-5 tahun kesulitan membaca adalah hal yang normal. Pada usia itu anak memang masih kesulitan dalam mengenal huruf, kata dan bagaimana membedakan atau merangkainya. Jadi, masih wajar jika balita sering salah membaca.
Tapi jika kesulitan membaca ini terjadi pada anak yang sudah masuk sekolah dasar, orang tua perlukhawatir. Saat anak duduk di sekolah dasar, anak sudah harus belajar mengenal huruf, membedakan kata dan bisa mengeja dan merangkainya menjadi kata dan kalimat.
Ketika katiga tanda disleksia terlihat pada anak yang sudah duduk di bangku SD segera saja menghubungi psikiater. Agar bisa diberi terapi sedini mungkin. Latihan remedial teching (terapi mengulang) biasanya dilakukan untuk membantu anak disleksia. Bagi anak disleksia yang juga mengalami gangguan perilaku dan sulit bicara biasanya akan diberu terapi perilaku dan wicara.UMMI/JULI2004



0 comments:

Posting Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda