Rabu, 13 Mei 2009

GANGGUAN MAKAN BALITA BISA JADI ANDA PENYEBABNYA!


Jangan dulu menyalahkan si kecil karena dia mengalami gangguan makan. Ternyata, kebanyakan penyebabnya adalah kita, orang tuanya.
Masalah makan si kecil memang membuat kita jadi serba salah. Bahkan, tak jarang jadi sering kehabisan akal. “Saya langsung over reactive waktu Siska susah makan. Saya takut dia kekurangan gizi,” ujar seorang ibu tentang anaknya, Siska. Akibatnya, Siska langsung “dijejali” dengan seabrek makanan. Apa yang terjadi? Siska malah semakin mengunci rapat-rapat mulutnya!

Fisik atau psikis?
Untuk “urusan” makan, sebenarnya balita (terutama usia 0-12 bulan) adalah konsumer pasif. Artinya, dia lebih banyak mengonsumsi makanan yang sudah kita pilihkan. Dari sinilah sebetulnya anak mulai belajar perihal pola makan. Bagaimana pola makan yang Anda tanamkan pada saat ini akan menentukan pola makan dan juga kebiasaan makan si kecil di masa depan.
Menurut dr. Dida Ahmad Gurnida, Sp.A, MKes., pengajar di Subbagian Nutrisi dan Metabolisme, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran - RS Hasan Sadikin, Bandung, “Ada tiga jenis gangguan pola makan yang kerap dialami oleh balita, yaitu sulit makan, pilih-pilih makanan atau picky eater, serta susah mengontrol nafsu makan alias makan melulu.” Manakah yang paling banyak terjadi pada balita?
“Walau secara nasional belum ada data, gangguan makan yang paling banyak dialami anak-anak usia ini di Indonesia adalah sulit makan, khususnya anak usia 6 bulan ke atas,” jawab dr. Dida.
Sebenarnya, penyebab sulit makan pada balita terdiri dari dua faktor, yaitu fisik dan psikis. Kalau fisik yang jadi pemicu, misalnya karena ada gangguan di sistem saluran pencernaan, akibatnya si kecil mual setiap kali makan. “Atau, bisa juga memang ada gangguan di gigi-geliginya, dan sebagainya. Namun, jangan panik dulu. Presentase akibat faktor ini kecil sekali,” kata dr. Dida lagi.
Bagaimana dengan faktor psikis? “Justru inilah yang jadi penyebab utama sulit makan pada balita. Namun, ada tapinya. Faktor ini juga jadi pemicu timbulnya gangguan makan lainnya,” sambung dr. Dida.

Ternyata, orang tua biang keladinya!
Menurut Dra. Dini Daengsari, MSi., staf pengajar dari jurusan Psikologi Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, “Secara psikis, gangguan pola makan balita ternyata akibat kesalahan para orang tua juga. Bukankah Anda yang menyediakan makanan bagi si kecil?”
Dini menyatakan lagi, “Karena merasa cemas anaknya tidak mau makan, kita langsung memberinya makanan sesuai porsi kita. Atau, kalau si kecil masih juga tidak mau makan, pilihannya cuma dua. Dipaksa makan atau dimarahi,” katanya
Tidak hanya itu. Biasanya, anak juga dipaksa duduk manis ketika makan. Kalau sudah begini, makan anak diasosiasikan anak sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal, suasana makan yang menyenangkan amat membantu dalam pemberian makan pada anak.
Bagaimana dengan si picky eater ? Bisa jadi ini karena variasi makanannya tidak cukup banyak. Atau, karena suka rasa tertentu saja, si kecil hanya mau makan yang itu-itu saja. “Celakanya, kemauan si anak ini selalu kita turuti. Alasannya? Daripada tidak makan,” lanjut Dini.
Psikolog UI ini juga mengatakan bahwa anak yang tidak bisa mengontrol nafsu makannya adalah masalah juga. “Bisa jadi, ini karena kebiasaan anak dari kecil. Kita kan senang tuh melihat anak yang makan banyak, sehingga dia dibiasakan untuk makan melulu. Akhirnya, anak berpikir kalau makan banyak itu adalah sesuatu yang diharapkan olehorang tuanya. Masalahnya, kebiasaan ini bisa terbawa sampai ia remaja kelak,” katanya lagi.
Dalam hal ini dr. Dida menambahkan, “Karena Anda selalu menuruti nafsu makannya, lama-kelamaan anak tidak punya rangsang lapar dan tidak mengenal rasa kenyang. Dia akan makan terus, terus dan terus. Ini yang bahaya!”
Perilaku orang tua yang kurang tepat lainnya adalah, “Pemberian makan dijadikan semacam reward . Kalau si kecil melakukan sesuatu yang baik, ia akan diberi ‘penghargaan', berupa makanan kesukaannya. Akhirnya, makanan jadi sesuatu yang diharapkan,” sambung Dini.
Jadi, gangguan pola makan si kecil memang ujung-ujungnya bermuara pada orang tua juga. Kita harus sadar bahwa anak selalu punya strategi untuk “mengalahkan” orang tuanya. Salah satunya, ya dengan memanipulasi “kelemahan” orang tua dalam urusan makannya dengan jalan mogok makan kalau tidak diberi hadiah, misalnya. “Makanya, sejak awal Anda atau pasangan harus menanamkan pola makan yang sehat dan sesuai takaran makan anak. Dengan begitu, anak akan mempunyai pola makan yang benar,” tegas dr. Dida.

Ke dokter dulu....
Begitu melihat adanya gangguan pola makan si kecil, sebaiknya Anda segera membawanya ke dokter. Karena, bila gangguan makan anak dibiarkan berlarut-larut, kesehatannya jadi taruhannya. Misalnya, kurang gizi dan sebagainya
Sebelumnya, Anda bisa mengira-ngira gangguannya termasuk jenis yang mana? Nggak susah kok untuk mengetahuinya. Lihat saja intake makanannya. Kurang atau berlebih? Anda bisa memantau kondisi gizinya berdasarkan berat badan terhadap tinggi badan. Caranya, lihat saja dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) yang ada pada buku periksa rutin anak Anda.
Setelah diperiksa dokter dan bila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa gangguan makan si kecil sifatnya psikis, barulah Anda membawanya ke psikolog anak.

Ini solusinya!
Bila gangguan pola makan balita ternyata faktor psikis, hal ini masih harus dilihat case by case . Misalnya saja, jika susah makannya akibat ‘dipaksa' makan, sebaiknya Anda cari kiat untuk menghilangkan traumanya, seperti mengganti makanannya untuk sementara waktu.
“Sebenarnya, menciptakan suasana makan yang menyenangkan tidak susah. Yang penting, jangan memaksa anak untuk makan ini itu. Bahkan, kalau perlu, si kecil diajar untuk memilih. Tentu saja ada syaratnya. Perkenalkan anak dengan berbagai variasi makanan, lalu biarkan ia memutuskan sendiri makanan yang diinginkannya,” saran Dini.
Nah, agar si kecil berpola makan benar, Anda perlu tahu kebutuhan dan ukuran makannya yang paling pas. Pada intinya, pola makan balita harus bergizi seimbang. Ini berarti, zat-zat gizinya harus komplit dan diberikan dalam porsi yang sesuai. Selain itu, jadwal pemberian makanannya harus dilihat lagi.
Sebagai catatan, pemberian makan pada anak sangat individual sekali sifatnya. Ada anak yang makan sedikit tapi sering, namun ada juga yang makannya sesuai jadwal makan keluarga, yaitu 3-4 kali sehari. “Jadi, penting untuk mendiskusikan hal-hal ini dengan dokter anak Anda,” ujar dr. Dida.
Bagaimana dengan pemberian suplemen? “Tidak apa-apa sih , terutama bila si kecil sulit atau terlalu pilih-pilih makanan. Dikhawatirkan, nantinya dia malah kekurangan zat-zat gizi. Tapi, sebaiknya konsultasikan dulu hal ini dengan dokter,” kata dr. Dida.
Jadi, kenalilah kebutuhan anak Anda, dan tanamkan pola makan yang benar kepadanya. Tentu saja, hal ini harus dimulai dari diri Anda dahulu.




Pola Makan yang Baik

Pola makan anak dikatakan baik bila memenuhi tiga aspek berikut:

  • Aspek fisiologis. Memenuhi kebutuhan gizi untuk proses metabolisme, membantu proses pertumbuhan, perkembangan fisik dan psikomotor anak.
  • Aspek edukatif. Anak jadi pandai mengonsumsi makanan, dan membentuk kebiasaan memilih makanan yang baik.
  • Aspek psikologis. Memenuhi kepuasan atas rasa lapar dan haus pada anak.


Inilah Datanya!

Walau tidak banyak laporan tentang angka kejadian gangguan pola makan, George Town University Affiliated Program for Child Development (GUAPCD), Amerika Serikat, melaporkan bentuk-bentuk gangguan tersebut:
  • Hanya mau makanan lumat/cair: 27,3%
  • Kesulitan mengisap, mengunyah atau menelan: 24,1%
  • Kebiasaan makanan yang aneh/ganjil: 23,4%
  • Hanya menyukai sedikiy makanan: 11.1%
  • Keterlambatan makan sendiri: 8,0%

Kiat Sukses Cegah Gangguan Makan:
  • Orang tua atau pengasuh harus ekstra sabar.
  • Jangan hukum anak bila makannya tidak oke.
  • Jangan menyogok anak untuk makan.
  • Jangan singgung-singgung kelakuan “nakal” anak pada saat makan.
  • Selesaikan acara makan dalam waktu ½ jam atau kurang.
  • Jangan harap anak langsung menerima makanan baru.
  • Larang anak melakukan hal-hal yang tidak Anda sukai, seperti membuang atau melempar makanan.


Becky Tumewu (33 tahun), presenter, ibu 2 putri

“Tragedi Bubur Nasi”
Sekalipun tidak memegang penuh Tara (4 tahun) dan Kayla (16 bulan) setiap harinya, saya tahu jika terjadi sesuatu pada mereka. Ketika Kayla berusia 8 bulan, selama beberapa hari ia mogok makan bubur nasi. Saya menduga pasti ada yang nggak beres. Kayaknya sih , Kayla trauma karena dipaksa makan bubur nasi. Waktu itu, mungkin ia dicekcoki bubur nasi, padahal belum lapar. Akibatnya, Kayla selalu menolak jika disodori bubur nasi. Bahkan, melihat mangkuk makanannya saja, ia sudah memperlihatkan mimik ingin muntah.
Akhirnya, saya cari akal untuk menghilangkan kenangan buruknya atas ‘tragedi' bubur nasi. Untuk sementara waktu, saya stop saja pemberian bubur nasi. Selama seminggu, Kayla diberi makanan pengganti lain, seperti bubur susu. Makanan itu Setelah itu, saya coba lagi memberinya bubur nasi. Hasilnya? Kayla mau makan buburnya. Dari situ, saya jadi belajar kalau saya harus selalu menjaga suasana hati Kayla, kondisinya saat itu, serta jenis makanannya. Jika makanannya sip, kondisinya oke, serta suasana hatinya nyaman, nggak akan ada masalah makan.


Dessy Yulfiani K.D. , karyawati swasta, ibu seorang putra

“Makanan Selalu Diemut”
Bian (2 tahun) susah sekali makannya. Sekarang ini, berat badannya sekitar 15 kg saja. Memang, berdasarkan berat badan terhadap tinggi badan, dia masih tergolong normal. Hanya saja, kok dia terlihat kurus?
Saya jadi cemas melihatnya. Apa ini karena dia aktif dan tidak pernah mau diam? Meski begitu, saya cenderung melihat ini semua karena ia suka mengemut makanannya. Bayangkan saja, untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya, butuh waktu yang super lama. Begitu masuk ke mulut, ‘perjuangan' belum selesai. Makanan langsung diemut. Bukan cuma itu. Ia harus dikejar-kejar oleh pengasuhnya agar mau makan. Untungnya, ia suka main playstation. Ya, sudah. Disuapi sambil asyik bermain games kesukaannya.
Tapi, saya jadi berpikir lagi. Bisa jadi, Bian mengemut karena makanan yang disodorkan itu-itu saja. Makanannya memang sama dari pagi sampai sore. Ia jadi bosan dan malas makan. Jadi, saya coba variasikan menu makanannya.
Untuk mengatasi gangguan makan Bian, saya juga memberinya susu. Untungnya, dia mau. Saya juga membawanya ke dokter, kemudian diberi vitamin penambah nafsu makan. Sekarang, makannya Bian sudah lebih oke.

1 comments:

dhian's world mengatakan...

putri saya 22 bulan, beratnya hanya 9 kg dan tinggi 78 cm. kecil sekali ya ? lahirnya prematur 2.2 kg.
hingga hari ini tak mau minum susu formula, lebih suka asi saja. dan kalau makan nasi kadang mau, kadang tidak. sepertinya harus mutar otak ganti menu ya ?

Posting Komentar

Bunda Dan Ananda © 2008 Template by:
bunda dan ananda